<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Astutiamin&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://astutiamin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://astutiamin.wordpress.com</link>
	<description>To Share to be Better</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 May 2011 14:18:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='astutiamin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Astutiamin&#039;s Blog</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://astutiamin.wordpress.com/osd.xml" title="Astutiamin&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://astutiamin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Strategi Pengembangan Teknik Bertanya</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/strategi-pengembangan-teknik-bertanya/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/strategi-pengembangan-teknik-bertanya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 05:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[kelas efektif]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan kelas]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik bertanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa langkah yang harus dikuti jika ingin meningkatkan kemampuan bertanya sehingga dapat diperoleh umpan balik dan kemampuan berpikir konstrutivistik dalam proses pembelajaran. Sebelumnya diperlukan suatu ketertarikan untuk meningkatkan kebiasan bertanya. Membaca secara mendalam merupkan salah satu indikator  akan ketertarikan terhadap suatu hal. Peningkatan pola pikir harus diupayakan dalam sebuah tindakan. Menurut Blosser (1973) bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=58&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa langkah yang harus dikuti jika ingin meningkatkan kemampuan bertanya sehingga dapat diperoleh umpan balik dan kemampuan berpikir konstrutivistik dalam proses pembelajaran. Sebelumnya diperlukan suatu ketertarikan untuk meningkatkan kebiasan bertanya. Membaca secara mendalam merupkan salah satu indikator  akan ketertarikan terhadap suatu hal. Peningkatan pola pikir harus diupayakan dalam sebuah tindakan.</p>
<p>Menurut Blosser (1973) bahwa ada beberapa saran dari setiap fase pembelajaran yang harus diikuti:</p>
<p>1. Perencanaan dalam pembelajaran</p>
<ul>
<li>Menganalisis materi yang akan dilakukan untuk mencakup dan menetapkan pembelajaran untuk menggunakan pertanyaan tertutup atau pertanyaan terbuka</li>
<li>Pra-rencana, beberapa kunci pertanyaan dibuat dalam rencana pembelajaran dan ide sementara ketika mereka bertanya selama di kelas.</li>
<li>Membandingkan kunci pertanyaan dengan kategori pertanyaan dan mengidentifikasi setiap pertanyaan apakah bersifat terbuka atau tertutup dengan menggunakan sistem klasifikasi pertanyaan IPA.</li>
<li>Jika didominasi oleh pertanyaan terttutp makan kita dapat memodifikasi kondisi tersebut dan menghasilkan pertanyaan terbuka yang masih relevan dan tetap bersifat objektif khususnya pada pembelajaran.</li>
<li>Mengembangkan beberapa pendapat dan pertanyaan yang dapat digunakan agar siswa tetap memberikan respons dan menjelaskan jawaban mereka.<span id="more-58"></span></li>
</ul>
<p>2. Selama proses pembelajaran</p>
<ul>
<li>Jika anda tidak siap berusahalah untuk membangun kondisi atau atmosfer pembelajaran untuk mendorong interaksi siswa tentang pembelajaran dan partisispasi siswa.</li>
<li>Berupaya untuk memberikan waktu untuk berhenti sejenak setelah mengajukan pertanyaan khususnya jika itu adalah pertanyaan terbuka. Waktu ini untuk memberikan umpan balik yang bersifat nonverbal  pada siswa.</li>
<li>Rekam beberapa pelajaran yang digunakan untuk menganalisa pertanyaan dan interaksi verbal.</li>
<li>Gunakan kelompok diskusi kecil sehingga waktu dapat berjalan dengan baik dari total kelas. Mengatur kembali meja dan kursi jika kondisi tersebut memungkinkan.</li>
</ul>
<p>3. Setelah pembelajaran</p>
<ul>
<li>Gunakan rekaman tadi untuk mengidentifikasi jenis pertanyaan yang telah ditanyakan. Untuk menggambarkan seluruh pertanyaan tersebut kita dapat menggunakan sistem kategori pertanyaan untuk sains dalam mengidentifikasi pertanyaan. Rekam setiap tipe pertanyaan sesuai dengan lembar observasi.</li>
<li>Ketika mendengarkan dan menganalisa rekaman, berusahalah untuk mengidentifikasi dan merekam khususnya mengenai: waktu yang anda gunakan untuk mengulang pertanyaan, waktu yang anda gunakan untuk mengulang respon siswa, waktu anda untuk meminta respon siswa dalam mengungkapkan tanggapannya dengan cara yang berbeda agar tetap sesuai pada tujuan pembelajaran, waktu yang anda gunakan untuk menjawab pertanyaan, waktu yang anda gunakan hanya pada satu siswa untuk merespon pertanyaan dari kemungkinan berbagai respon, waktu ketika anda berhenti dan tidak melakukan apa-apa.</li>
<li>Berusaha untuk memaknai kebiasaaan yang terjadi diatas.</li>
<li>Menggunakan sebelas dari kategori sistem analisis guru dalam bertanya. Dengarkan rekamanan tersebut dan berapa kali anda menggunakan setiap perlakuan tersebut</li>
</ul>
<p>Untuk meningkatkan teknik bertanya maka diperlukan rekaman dalam beberapa proses pembelajaran untuk dapat dianalisa. Lebih dari lima inchi gulungan rol dari audiotape cukup selama 45 menit pada tiap pertemuan. Khususnya jika rekorder tersebut di set selama 1 7/8 rpm. Hindari menempatkan rekaman pada seluruh kelas dalam satu waktu. Sebaiknya dimulai dengan kelas yang memiliki suasana atau atmosfir diskusi kelas yang paling baik dimana siswa dapat berpartisipasi dengan menggunakan daya nalar ataupun secara spontanitas. Merekam pembelajaran sebaiknya menggunakan pola contohnya, jika anda merekam pada hari selasa maka usahakan rekaman pembelajaran yang kedua dilakukan pada hari selasa berikutnya pada kelas yang sama. Hal ini untuk memberikan analisis dalam melihat peningkatan perilaku bertanya dalam proses pembelajaran sains.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Ibrahim, Muslimin. 2002. <em>Assesmen Berkelanjutan</em>. Surabaya. University Press-Universitas Negeri Surabaya.</p>
<p>P.E.Blosser. 1973. <em>Hand Book of Effective Question Techniques.</em> Colombus Ohio. The Ohio State University.</p>
<p>Silberman, Malavin. 1996. <em>Active Learning.</em> Massachussetts. A Simon &amp; Schuster Company.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Sofa, Pakde. 2008. <em>Ketermapilan Bertanya, Mendengar dan Evaluasi dalam Pembelajaran. </em>Diakses pada tanggal 1 Februari 2010.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Sumati dan Asra. 2007. <em>Metode Pembelajaran. </em>Bandung. Wacana Prima.</p>
<p>Tim Pelatih Diklat. 2003. <em>Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Biologi. </em>Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=58&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/strategi-pengembangan-teknik-bertanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menciptakan Kondisi yang Efektif dalam Diskusi Kelas Sains</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/b-menciptakan-kondisi-yang-efektif-dalam-diskusi-kelas-sains/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/b-menciptakan-kondisi-yang-efektif-dalam-diskusi-kelas-sains/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 05:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[aransmen ruangan kelas]]></category>
		<category><![CDATA[formasi kelas]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan belajar]]></category>
		<category><![CDATA[metode diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Menciptakan kondisi yang efektif dalam diskusi kelas Sains dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain aransemen ruang dalam kelas diskusi, ukuran kelompok, lamaya durasi sesi diskusi, tipe siswa yang dapat dijumpai dalam diskusi Aransemen ruang untuk diskusi kelas Jika menginginkan diskusi dapat berjalan efektif maka aransemen kelas dan iklim kelas yang baik merupakan faktor yang harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=54&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menciptakan kondisi yang efektif dalam diskusi kelas Sains dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain aransemen ruang dalam kelas diskusi, ukuran kelompok, lamaya durasi sesi diskusi, tipe siswa yang dapat dijumpai dalam diskusi<strong> </strong></p>
<p><strong><em>Aransemen ruang untuk diskusi kelas</em></strong></p>
<p>Jika menginginkan diskusi dapat berjalan efektif maka aransemen kelas dan iklim kelas yang baik merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Siswa dapat berinteraksi lebih baik dengan lainnya jika mereka duduk berhadapan sehingga mereka dapat melihat teman-teman sekelas mereka daripada bagian belakang kepala mereka. Intinya, semua dapat terlihat jelas. Guru harus menggeser meja dan kursi  ketika mereka akan berdiskusi. Hasil akhirnya sepadan dengan usaha mereka. Guru sains yang melakukan semua aktivitas dalam ruangan yang dilengkapi dengan laboratorium dan beberapa usaha yang harus dicoba untuk mengimprovisasi kondisi kelas yang terbaik.<span id="more-54"></span></p>
<p>Jika ruangan sains dilengkapi dengan meja untuk dua siswa, secara umum dapat dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jika guru menginginkan interaksi maksimum maka siswa dapat dibagi menjadi empat dalam setiap kelompok atau jika kelompok lebih besar muncul untuk dapat bekerja lebih baik, maka dapat ditambahkan meja sehingga setiap kelompok diskusi terdiri dari delapan siswa.</p>
<p>Salah satu faktor yang sering dilupakan adalah lokasi guru di kelas. Banyak guru yang terus berdiri dan mendominasi kelas sementara siswa duduk untuk berdiskusi. Fungsi guru selama diskusi adalah untuk memimpin dan menfasilitasi pertukaran antar siswa, guru juga dapat bergabung pada diskusi kelompok di kelas.<!--more--></p>
<p><strong><em>Tata letak meja dan bangku dalam proses belajar di kelas</em></strong></p>
<p>Kursi dan meja siswa dan guru perlu ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar yang mengaktifkan siswa, yakni memungkinkan hal-hal sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Aksesibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia.</li>
<li>Mobilitas: siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas</li>
<li>Interaksi: memudahkan terjadi interaksi antara guru dan siswa maupun antara siswa.</li>
<li>Variasi kerja siswa: memungkinkan siswa bekerjasama secara perorangan, berpasangan, atau kelompok.</li>
</ol>
<p>Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat mejadikan belajar aktif. Tidak ada satupun bentuk ruang kelas yang ideal, namun ada beberapa pilihan yang dapat diambil sebagai variasi. Dekorasi interior kelas harus dirancang yang memungkinkan anak belajar aktif, yakni yang menyenangkan dan menantang. Formasi kelas berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi susunan yang permanen. Jika mubeler (meja atau kursi) yang ada di ruang kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi ini sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Silberman (1996), ada beberapa formasi yang dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar  yang aktif antara lain sebagai berikut:<strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Formasi huruf U</strong></p>
<p>Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru dan/atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.<strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Formasi corak tim</strong></p>
<p>Mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.<strong></strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Meja konferensi</strong></p>
<p>Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja.<strong></strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Lingkaran</strong></p>
<p>Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh.  Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Kelompok untuk kelompok </strong></p>
<p>Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Workstation </strong></p>
<p>Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemonstrasikan. Tempat berhadapan mendorong patner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Breakout grouping</strong></p>
<p>Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Susunan Cheveron</strong></p>
<p>Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah.</p>
<p><strong>9. </strong><strong>Kelas tradisional </strong></p>
<p>Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari baris-baris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar jursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Auditorium </strong></p>
<p>Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.Jika tempat-tempat duduk itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku asertif terhadap bentuk ini; sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi audotorium. Ingatlah : tidak masalah seberapa besar auditorium dan seberapa banyak audien, anda masih dapat memasangkan mereka dan menggunakan aktifitas-aktifitas belajar aktif yang melibatkan pasangan-pasangan.</p>
<p><strong>Ukuran kelompok untuk diskusi kelas</strong></p>
<p>Ukuran kelas adalah variabel lain dari yang mempengaruhi diskusi. Aturan umum bahwa setiap kelompok yang memiliki lebar 30, maka hanya sekitar sepertiga kelompok akan berpartisipasi aktif. Ketika siswa sains beraktifitas dalam laboratorium mereka dapat bekerja secara individu, berpasangan atau kelompok kecil, sementara fungsi dari guru adalah penasehat. Demikian juga bahwa aktivitas/kegiatan diskusi dapat diatur. Guru dam siswa dapat mengajukan pertanyaan terbuka yang harus dipertimbangkan sebelum kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil.</p>
<p>Ada ukuran optimal untuk diskusi kelompok. Delapan sampai dua belas siswa per kelompok merupakan kisaran dimana partisipasi aktif dapat berlangsung. Jika kelompok terlalu kecil, maka individu merasa tidak nyaman dan merasa berkawajiban untuk memberikan kontribusi, apakah mereka benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dikatakan atau tidak. Jika kelompok terlalu besar maka ada beberapa siswa yang tidak pernah berpartisipasi.</p>
<p>Ketika kelompok pertama kali terbentuk maka guru menunjuk siswa untuk bergabung dalam kelompok tertentu. Komposoisi kelompok harus berasal dari berbagai kemampuan dan minat, hal ini akan berfungsi lebih baik daripada kelompok tersebut terdiri dari kemampuan dan bakat yang sama. Siswa ditunjuk sebagai pemimpin kelompok diskusi dan peran pemimpin selalu mengalami rotasi pada setiap pergantian sesi kelas. Siswa yang berbeda pada tiap kelompok ada yang berfungsi sebagai observer/pengamat yang diberikan tanggung jawab untuk membuat ringkasan, mengevaluasi kemajuan kelompok dan menjaga agar tetap dapat berpartisispasi. Tugas ini berotasi dari satu sesi kesesi berikutnya.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus dipertimangkan dalam diskusi yakni; 1) bagaimana diskusi tersebut berjalan, 2) bagaimana tujuan diskusi dapat tercapai, 3) berapa banyak kelompok yang berpartisispasi. Observer dapat memberikan data untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut. Penilaian kualitas dan kuantitas dari distribusi siswa merupakan tugas dari guru.</p>
<p><strong>Lamanya durasi sesi diskusi</strong></p>
<p>Seperti halnya dengan ukuran kelompok, tidak ada panjang optimal untuk sebuah sesi diskusi. Guru yang mengetahui siswa mereka mungkin dapat menilai, dengan jenis dan frekuensi terhadap partisipasi siswa ketika membawa diskusi menjadi tertutup. Hal ini tidak penting untuk melanjutkan diskusi sampai konsensus telah tercapai atau semua solusi untuk sebuah masalah yang nyata atau hipotetis telah diidentifikasi. Guru mungkin ingin menggunakan beragam kegiatan tindak lanjut, tergantung pada apa yang terjadi selama diskusi, sejumlah minat siswa diskusi yang mungkin terprovokasi, atau tambahan topik diskusi yang mungkin telah diidentifikasi.</p>
<p>Sebagian besar sekolah-sekolah cenderung memiliki waktu pertemuan kelas sekitar empat puluh lima menit. Jika murid tidak terbiasa untuk berpartisipasi dalam diskusi, guru harus berusaha selama kira-kira dua puluh menit untuk sesi diskusi. Jika mayoritas siswa tampaknya tidak nyaman ketika dalam kelompok diskusi dan cenderung lebih menginginkan guru untuk lebih memberikan arahan atau dominasi yang lebih darpada yang mereka berikan, maka sesi diskusi tidak boleh diperpanjang jkareana nampaknya terjadi kemacetan/hambatan. Walaupun guru dan siswa dapat membisakan untuk bersikap toleransi dan  ambiguitas dan keragua-raguan pada saaat memulainya. Guru harus berspekulasi untuk memungkinkan lebih banyak waktu. Ini tidak hanya menyebabkan frustasi dan roda perputaran bagi sebagian siswa, tetapi juga dapat berarti bahwa waktu tambahan akan menghasilkan kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menghasilkan beberapa percakapan yang bermanfaat.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>Tipe siswa yang dapat dijumpai guru dalam diskusi</strong></p>
<p>Pertama, guru dapat menjumpai siswa yang menuntut lebih banyak struktur. Mungkin ini adalah siswa terbaik yang berorientasi pada kelas dan terbiasa untuk mengetahui &#8220;apa yang guru inginkan&#8221;. Mereka mampu belajar autonom tetapi mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Mereka mungkin beranggapan, bahwa kegiatan diskusi adalah membuang-buang waktu. Ini adalah tugas guru, melalui jenis orientasi yang diberikan untuk diskusi dan dengan menggunakan stimulus, pertanyaan verbal yang jelas, untuk meyakinkan para siswa untuk mempertimbangkan penilaian diskusi sebagai perangkat belajar sampai mereka memiliki lebih banyak pengalaman dalam kelompok diskusi.</p>
<p>Tipe siswa kedua adalah <em>hand-waver</em>. Siswa ini memiliki keinginan untuk menarik perhatian, atau alasan lain, sehingga dapat mendominasi jalannya diskusi jika guru tidak waspada. Penekanan pada penghormatan terhadap berbagai pendapat dan peningkatan partisipasi sejumlah siswa harus disajikan kembali dari waktu ke waktu. Kadang-kadang <em>hand-waver</em> berkeinginan untuk membantu jalannya diskusi sehingga dapat berperan sebagai observer pada diskusi kelompok atau untuk sesi diskusi kelas. Guru harus belajar bagaimana menangani siswa yang memiliki semangat berlebihan, sehingga ia tidak mendominasi tanpa harus  menghukum atau menahan agar dia berhenti untuk berpartisipasi atau membuat  gangguan sebagai pembalasan karena tidak diperbolehkan bicara. Kadang-kadang guru dapat mengantisipasinya berkata dengan &#8220;<em>mari kita memberikan kesempatan pada seseorang yang belum mengatakan sesuatu atau dalam waktu ini sedikit diberikan kesempatan untuk mengekspresikan ide mereka sebelum kami mendengar beberapa dari anda </em><em>, </em>&#8221; atau kata-kata seperti itu.</p>
<p>Siswa jenis ketiga dapat digambarkan sebagai <em>shy </em>(pemalu). Mereka mungkin tidak akan bersikap dominan dikelas tetapi mereka begitu pendiam dan mereka sering terabaikan. Beberapa teknik diperlukan untuk mendorong tanggapan dari siswa yang cenderung untuk tidak menjawab pertanyaan.</p>
<p>Dalam beberapa kelompok di kelas, pelajar keempat ditemukan jenis yang diidentifikasi sebagai kelas bodoh. Siswa ini sering kali menjadi objek ejekan. Ketika siswa tersebut mencoba untuk menanggapi pertanyaan atau untuk berpartisipasi dalam diskusi, mereka akan disambut dengan rekan-rekan mereka &#8216;reaksi dari &#8220;apa yang Anda tahu, Bodoh?!&#8221; Perilaku ini akan berkurang jika guru telah mampu membentuk suasana ruang kelas di mana ide-ide atau pendapat dari masing-masing individu dihormati. Guru dibutuhkan untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya dalam cara mendengarkan dan memberikan dukungan bagi siswa tersebut.</p>
<p>Jenis siswa yang kelima dalah <em>side-tracker </em>(sisi-pelacak). Dia rupanya memiliki pertanyaan yang tidak berujung pangkal dan komentar yang muncul menjadi relevan, tetapi dapat mengirim diskusi terhenti dari tujuan aslinya. Guru membutuhkan penanganan taktik pengalihan sedemikian rupa sehingga ia tidak diabaikan atau ditegur atau menjadi angkuh dalam diskusi. Taktik terbaik adalah dengan menjawab pertanyaan sesingkat mungkin dan mengembalikan diskusi ke topik semula.</p>
<p>Jenis siswa yang keenam kadang-kadang ditemukan di dalam kelas adalah <em>attention grabber/grand-stander. </em>Mungkin ada berbagai individu yang sesuai dengan kategori ini, siswa yang melawan/memberontak guru atau untuk memulai permainan sendiri, untuk siswa yang memiliki masalah emosional dan psikologis yang mereka perlukan adalah perhatian. Sekali lagi, tidak ada satu cara terbaik untuk menangani situasi jika, atau ketika, timbul selain tidak menjadi kesal atau marah,  mengabaikan insiden adalah taktik yang paling efektif untuk digunakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=54&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/b-menciptakan-kondisi-yang-efektif-dalam-diskusi-kelas-sains/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Implementasi Teknik Bertanya, Distribusi Partisipasi Siswa</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/implementasi-teknik-bertanya-distribusi-partisipasi-siswa/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/implementasi-teknik-bertanya-distribusi-partisipasi-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 05:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[metode diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[metode inkuiri]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan terbuka]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan tertutup]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik bertanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum seorang guru dapat menggunakan secara sistematis satu jenis dari bentuk pertanyaan dalam mengajar sains, guru tersebut harus mengerti dan memahami alasan-alasan untuk mempertimbangkan jenis pertanyaan yang diinginkan. Proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan menumbuhkan kemampuan berfikir. Pembentukan sikap ilmiah seperti ditunjukan oleh para ilmuawan sains dapat dikembangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=51&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum seorang guru dapat menggunakan secara sistematis satu jenis dari bentuk pertanyaan dalam mengajar sains, guru tersebut harus mengerti dan memahami alasan-alasan untuk mempertimbangkan jenis pertanyaan yang diinginkan. Proses pembelajaran sains cenderung menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dan menumbuhkan kemampuan berfikir. Pembentukan sikap ilmiah seperti ditunjukan oleh para ilmuawan sains dapat dikembangkan melalui keterampilan-keterampilan proses sains yang terdiri dari mengamati, menafsirkan pengamatan, mengelompokkan, merumuskan hipotesis, mengajukan pertanyaan, berkomunikasi, merencanakan dan melakukan penyelidikan.</p>
<p>Serangkaian pertanyaan yang bersifat mengarahkan akan dapat menggali kemampuan keterampilan proses yang dimiliki siswa. Pemberian pertanyaan selama pembelajaran memainkan peranan penting dikarenakan pertanyaan yang baik akan mampu memberi dampak positif bagi siswa untuk mengembangkan pola pikirnya. Semakin baik dan dan terarah pertanyaan yang diajukan selama pembelajaran, semakin memberi peluang pada siswa untuk secara baik untuk membangun suatu pengetahuan baru.<span id="more-51"></span></p>
<p>Pemberian pertanyaan harus dapat memancing siswa untuk berfikir kritis agar mampu memecahkan masalah. Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Metode <em>Inqury </em>(menemukan) dalam mengajar akan membantu dalam penggunaan pertanyaan terbuka (<em>open questions</em>). Bagi siswa sendiri kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek belum diketahuinya (Sofa, 2008).</p>
<p>Keberadaan dan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah berbeda. Perbedaan ini banyak ditunjang oleh kemampuan membaca dan latar belakang kemampuan pemikiran yaitu kemampuan melihat hubungan sebab akibat. Jika berhasil memcahkan suatu masalah maka siswa itu mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah lainnya. Bahkan tolak ukur kepandaian siswa dapat ditentukan oleh kemampuannya memecahkan masalah (Sumiati, 2007).</p>
<p>Keberhasilan menggunakan pertanyaan terbuka menimbulkan implikasi bahwa guru benar-benar tertarik untuk mengetahui kemampuan berpikir siswanya serta nilai apa yang dapat dipegang. Pertanyaan divergen dan pertanyaan evaluatif akan menghasilkan lebih terinci mengenai respon siswa. Tentunya hanya jika guru dapat menonjolkan suasana kelas dimana siswa akan merasa bahwa pendapat dan ide mereka dapat dihargai dan akan merasa bahwa pendapat dan ide mereka dapat dihargai dan dinilai. Penciptaan kondisi yang demikian hanya dapat terjadi jika didukung oleh kolaborasi guru dan siswa dalam penciptaan kondisi pembelajaran yang kondusif.</p>
<p><strong><em>Membebaskan kelas, untuk siswa mengemukakan pendapat</em></strong></p>
<p><em>Personel at the far West Laboratory for Educational Research and Development</em> banyak memberikan saran dalam penciptaan kondisi kelas dimana siswa bebas mengeluarkan pendapat dan ide mereka. Bahwasanya guru yang menginginkan kreatifitas haruslah menghindari penekanan  pada waktu dan tingkatan siswa. Guru harus membiasakan siswa hidup dalam kepastian atau keyakinan dan menjauhkan diri dari kebiasaan untuk memberikan jawaban asal-asalan/seadanya dari setiap pertanyaan. Siswa seharusnya mempunyai suatu peranan dalam menentukan bagaimana dan apa yang harus dipelajari.</p>
<p>Guru sains yang ingin menstimulasi diskusi kelas harus mampu menyatukan perasaan dan ide dari siswa serta menghargai apa yang siswa telah simpulkan. Jika guru mempertimbangkan pendapat individu sama pentingnya atau bahkan lebih dari kelompok, maka ia akan sungguh-sungguh memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk merespon apa yang mereka lakukan.</p>
<p>Dengan menggunakan pertanyaan divergen dan pertanyaan evaluatif, guru memiliki kesempatan untuk menggunakan pertanyaan terbuka yang diharapkan mendorong siswa makin mandiri memproses informasi dan kurang tergantung pada bantuan dan otoritas guru. Pertanyaan terbuka dapat digunakan ketika guru memperkenalkan gagasan atau topik baru.</p>
<p>Pertanyaan ini juga dapat digunakan ketika guru menganggap bahwa informasi latar belakang yang cukup memadai telah diperoleh oleh siswa di kelas dan kelas siap menggunakan informasi ini untuk mensintesa atau terlibat dalam aktivitas bernalar divergen. Namun, tidak realistis jika guru hanya menumpukan pada pertanyaan terbuka saja dan mengabaikan pertanyaan tertutup. Siswa harus memperoleh informasi yang dapat mereka gunakan dalam nalar mereka. Pertanyaan tertutup berperan penting dalam perumusan konsep ketika siswa memjawab pertanyaannya yang bertujuan untuk mengembangkan pertanyaan sehingga melahirkan suatu diskusi.</p>
<p>Diskusi dapat melatih kemampuan memcahkan masalah secara verbal dan memupuk sikap demokratis. Diskusi dilakukan bertolak dari adanya masalah. Diskusi dapat berjalan dengan baik dan efektif jika siswa sudah mampu berfikir dan menggunakan penalaran (Sumiati, 2007). Peran guru pada diskusi kelas beragam tetapi guru harus melakukan upaya sadar yang berperan sebagai pemandu dan moderator ketimbang menjadikan dirinya sebagai sumber kebijaksanaan. Guru mesti memandu, mengklarifikasi dan melaksanakan penjelasan atau memutuskan sesuatu pada siswa di kelas. Jika guru menginginkan para siswa mendiskusikan sains melalui aktivitas pemprosesan dan evaluasi kritis data, maka ia harus menciptakan peluang bagi mereka untuk lebih aktif daripada hanya menerima inormasi pasif dan menerima otoritas guru saja. Selain itu, ia harus memberi waktu kepada siswa berpikir sebelum mereka memberi jawaban untuk pertanyaan yang diajukan guru.</p>
<p>Jika jumlah siswa tidak terlalu banyak, maka guru bisa secara langsung menjadi pemimpin atau moderator. Namun, jika jumlah siswa cukup banyak, maka guru bisa membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil.  Menurut Sumiati (2007) bahwa ketika guru menjadi moderator atau memimpin diskusi, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:</p>
<ol>
<li>Menentukan materi atau masalah yang ingin didiskusikan.</li>
<li>Waktu fleksibel namun ada batasan yang disepakati.</li>
<li>Membimbing kelompok agar tetap relevan dan tertuju pada permasalahan yang didiskusikan.</li>
<li>Berikan kepada semua siswa kesempatan untuk memberikan kontribusi dan partisipasinya, jangan ada siswa yang ingin mendominasi atau mengganggu diskusi. Semua pendapat dihargai dan jangan disalahkan secara langsung walaupun yang diungkapkan oleh siswa itu salah.</li>
<li>Berikan dorongan agar siswa  jangan takut untuk memberikan pendapat yang berbeda dengan apa yang telah disampaikan. Ketika ada perbedaan pendapat yang dikemukakan, guru hendaknya memberi contoh dalam menghormati berbagai pendapat, yaitu bagaimana seorang guru memberikan perlakuan yang sama terhadap pendapat yang berbeda.</li>
</ol>
<p>Peranan guru sebagai pemimpin diskusi pada umumnya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pengatur jalannya diskusi, yaitu: menunjukkan pertanyaan kepada seorang siswa, menjaga ketertiban pembicaraan, memberi rangsangan kepada siswa untuk berpendapat, memperjelas suatu pendapat yang dikemukakan.</li>
<li>Sebagai dinding penangkis, yaitu menerima dan menyebarkan pertanyaan/pendapat kepada seluruh peserta.</li>
<li>Sebagai petunjuk jalan, yaitu memberikan pengarahan tentang tata cara diskusi.</li>
</ol>
<p><strong><em>Tujuan kelompok diskusi</em></strong></p>
<p>Tujuan dari diskusi kelompok adalah: 1) untuk menyediakn kesempatan, melalui penggunaan pertanyaan terbuka untuk menstimulasi pemikiran siswa tentang dan berbagai idea tau informasi melalui pengambilan data; 2) menyiapkan perhatian lebih pada individu sehingga dapat memungkinkan hubungan kerjasama dalam satu kelompok yang utuh; 3) menitikberatkan dominansi guru dari interaksi yang terjadi dalam pembelajaran sains. Kesemuanya tujuan ini dimaksudkan untuk membantu siswa menjadi pembelajaran yang autonom, bebas dari ketergantungan pada guru untuk menjawab masalah yang muncul.</p>
<p>Diskusi kelompok dapat juga digunakan untuk memberi informasi bahwa siswa dapat bertanya dan berinteraksi lebih bebas daripada apa yang mereka lakukan dalam proses pembelajaran yang lebih formal, guru boleh juga membagi kelas menjadi kelompok kecil untuk mengklarifikasi dan mereview aktivitas setelah mereka bekerja di kelas secara keseluruhan. Kelas boleh dibagi menjadi kelompok dengan topik-topik yang relatif menarik atau bab-bab khusus yang dipelajari dari sesi kelompok untuk tujuan motivasi dan evaluasi.</p>
<p>Guru juga dapat menggunakan sesi diskusi kelompok untuk tujuan remediasi. Siswa dengan masalah yang sama dapat menerima perhatian individu yang lebih daripada ketika mereka merupakan bagian terkecil dari total keseluruhan kelas. Dikelompok yang kecil, guru boleh memberikan pertanyaan dalam bentuk socratis dimana guru dapat berperan rangkap sebagai pemimpin dan peserta dalam diskusi, mengajukan masalah dan memimpin siswa untuk satu hal tertentu melalui serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang tersusun baik.</p>
<p>Menurut Sumiati (2007) bahwa suatu kelompok diskusi/studi yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Semua anggota terlibat secara maksimal terhadap semua tugas yang telah ditetapkan oleh dan untuk kelompok itu.</li>
<li>Interaksi spontan antara sesama anggota dirangsang dan dikembangkan.</li>
<li>Antara anggota terjadi saling membimbing dan membantu dalam usaha-usaha kelompok sewaktu diperlukan.</li>
<li>Antar anggota terjadi saling berkomunikasi secara interaksional.</li>
<li>Setiap anggota terikat pada tujuan untuk menjamin agar diskusi dilakukan atas dasar logika dan penalaran (rasional) bukan atas dasar sentimen dan emosi.</li>
<li>Setiap anggota bersikap demokratis dan berusaha untuk mencapai konsensus pendapat melalui argumentasi.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=51&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2010/09/02/implementasi-teknik-bertanya-distribusi-partisipasi-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Strategi Bertanya dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2010/08/26/pentingnya-strategi-bertanya-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2010/08/26/pentingnya-strategi-bertanya-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 04:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi bertanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tugas guru selain menyusun program pembelajaran dan melaksanakan di dalam kelas adalah guru harus dapat menetapkan apa yang dapat diperoleh atau dicapai dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selain itu, guru juga harus dapat menetapkan apakah program yang telah direncanakan dapat terlaksana sesuai harapan atau belum, dalam arti bahwa apakah kompetensi yang dikembangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=43&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tugas guru selain menyusun program pembelajaran dan melaksanakan di dalam kelas adalah guru harus dapat menetapkan apa yang dapat diperoleh atau dicapai dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selain itu, guru juga harus dapat menetapkan apakah program yang telah direncanakan dapat terlaksana sesuai harapan atau belum, dalam arti bahwa apakah kompetensi yang dikembangkan untuk siswa telah sesuai dengan harapan atau belum.<br />
Terdapat tiga komponen utama di dalam setiap proses belajar mengajar, yaitu tujuan, proses pembelajaran, dan evaluasi. Tujuan adalah sasaran  yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar yang akan dilakukan, proses adalah cara/metode/upaya untuk mencapai tujuan itu. Sedangkan eveluasi adalah alat ukur untuk menentukan apakah tujuan itu sudah tercapai atau belum dan apakah proses belajar mengajar yang telah dilakukan itu sudah tepat atau belum.<br />
Ketiga komponen ini saling berkait dan harus sesuai satu sama lain. Tujuan harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga mewakili semua kemampuan siswa yang ingin dicapai. Tujuan harus dirumuskan secara terukur. Proses belajar mengajar harus dirancang sesuai betul untuk mencapai tujuan. Proses belajar mengajar haruslah memberi peluang kepada siswa untuk memperoleh pengalaman sehingga dapat mengembangkan tingkah lakunya sesuai sasaran belajar yang telah dirumuskan. Rumusan evaluasi dan cara melakukan evaluasi harus betul-betul sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.<br />
Setiap evaluasi yang dilakukan harus mengacu kepada hasil belajar (tujuan) yang telah dirumuskan di dalam kurikulum. Untuk siswa SMP dan SMA, kurikulum yang berlaku mengatakan bahwa komponen-komponen utama program pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan itu meliputi strategi-strategi berikut:<br />
1.	Menanamkan konsep-konsep atau informasi.<br />
2.	Mengembangkan proses-proses sains, seperti pengamatan dan percobaan.<br />
3.	Keterkaitan antara konsep-konsep IPA dengan kehidupan nyata.<br />
4.	Keterkaitan pengajaran IPA dengan kehidupan nyata, seperti dalam bidang pertanian, teknologi, kesehatan, industri, dan lingkungan.<br />
5.	Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.<br />
6.	Mengembangkan keterampilan komunikas.<br />
7.	Mengembangkan budaya kerja dan sikap mental positif.<br />
Jadi, tujuan pendidikan tidak hanya terbatas pada produk tetapi juga menyangkut proses dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Untuk mengukur upaya siswa mencapai tujuan seperti yang tercantum di dalam kurikulum itu, menghendaki pengembangan cara-cara penilaian baru. Sistem penilaian ini disebut asesmen.<br />
Asesmen dapat diartikan sebagai proses mengumpulkan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi itu (Blaustein, D. Et.al, 1999 dalam Ibrahim, 2002). Kalau hasil belajar adalah sumber informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan tentang siswa, maka informasi yang dijaring tentang hasil belajar itu harus memberikan gambaran utuh tentang siswa.<br />
Kegiatan menetapkan keberhasilan belajar siswa disebut dengan kegiatan penilaian atau assesment, sedangkan kegiatan menetapkan seberapa jauh program pembelajaran dapat diimplementasikan sesuai dengan harapan disebut evaluasi (evaluation).  Jadi, penilaian difokuskan pada kegiatan untuk menentukan prestasi siswa, sedangkan evaluasi difokuskan pada kegiatan untuk menentukan seberapa jauh keberhasilan suatu program. Oleh karena itu, hasil penilaian juga dapat dipakai sebagai dasar untuk mengevaluasi apakah program pembelajaran yang sudah disiapkan beserta perangkatnya sudah sesuai dengan harapan, sehingga dapat menunjang tercapainya kompetensi lulusan yang ditargetkan (Tim Pelatih Diklat, 2003).<br />
Asesmen yang digunakan dan kapan asesmen itu digunakan sangat ditentukan oleh tujuan atau hasil belajar yang mau diukur dan kapan hasil belajar itu sebaiknya diukur. Hasil belajar siswa tidak dicapai serempak, tapi dicapai sepanjang proses belajar mengajar. Oleh karena itu, ada hasil belajar yang dapat diukur selama proses belajar berlangsung, ada hasil belajar yang baru dapat diukur setelah proses belajar mengajar selesai, bahkan ada hasil belajar yang hanya dapat diukur jauh setelah proses belajar itu terjadi. Filosofi inilah yang mendasari pentingnya asesmen yang berkelanjutan dengan menerapkan berbagai bentuk asesmen alternatif (Ibrahim, 2002).<br />
Salah satu strategi asesmen yang digunakan dalam melakukan asesmen berkelanjutan adalah penggunaan pertanyaan (Questioning). Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Melalui keterampilan bertanya, guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan siswa.<br />
Untuk dapat mengimplementasikan keterampilan bertanya dalam kelas IPA atau sains maka seorang guru perlu mengenal macam dari jenis pertanyaan, khususnya pertanyaan proses dan pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan proses merupakan bentuk pertanyaan yang mengacu pada pengembangan konsep sains, melalui daur berpikir empirico-logico-verificatio yang antara lain memuat pertanyaan observasi, klasifikasi, komunikasi, kesimpulan, hipotesis, eksperimentasi, dan pengukuran. Selanjutnya, pertanyaan tingkat tingi merupakan upaya menggali kemampuan siswa berpikir yang melibatkan aspek penilaian, penciptaan, dan penalaran yang hakikatnya menyearahkan siswa untuk mampu berpikir taat asas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=43&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2010/08/26/pentingnya-strategi-bertanya-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Global Warming (Pemanasan Global)</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/12/28/global-warming-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/12/28/global-warming-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 02:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[akibat pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[CFC]]></category>
		<category><![CDATA[dampak pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[Efek Global warming]]></category>
		<category><![CDATA[efek rumah kaca]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[Penyebab global warming]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab pemanasan global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Isu lingkungan yang menarik di era millinium ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak terjadinya pemanasan global ditandai dengan peningkatan kadar emisi (CO2) di udara, peningkatan tinggi muka air laut sebagai akibat mencairnya lapisan es di kutub utara (Antartika), perubahan cuaca yang radikal, dan bencana alam yang terjadi abad 21. Terbukanya lubang ozon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=35&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p style="text-align:left;">Isu lingkungan yang menarik di era millinium ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak terjadinya pemanasan global ditandai dengan peningkatan kadar emisi (CO<sub>2</sub>) di udara, peningkatan tinggi muka air laut sebagai akibat mencairnya lapisan es di kutub utara (Antartika), perubahan cuaca yang radikal, dan bencana alam yang terjadi abad 21. Terbukanya lubang ozon di atmosfer menyebabkan sinar ultraviolet langsung menuju bumi yang akan mengancam kehidupan makhluk hidup. Kondisi demikian mengakibatkan bumi menjadi labil dan dalam jangka panjang dapat merusak ekosistem di alam. Perubahan iklim yang terjadi akan menyebabkan kerugian yang besar bagi kehidupan manusia, seperti krisis air bersih, rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai, menurunnya produktivitas pertanian, dan meningkatnya frekuensi penyakit.</p>
<p>Ancaman inilah yang membuat para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas masalah global warming pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Di penghujung tahun 2007, Indonesia mendapat kehormatan sebagai tuan rumah suatu pertemuan akbar yang membahas tentang isu lingkungan, yakni Konferensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (<em>United Nation Framework Convention on Climate Cange</em>). Pertemuan yang dihadiri lebih dari 180 negara ini dikatakan oleh Emili Salim (Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, RI) selaku pimpinan delegasi Indonesia dalam Konverensi UNFCCC di Bali, ada tiga aspek penting yang disepakati pada konvensi Bali dalam menyikapi perubahan iklim meliputi persoalan ilmiah (<em>scientific</em>) dan seluruh detail teknisnya, kepentingan rakyat kecil, serta aspek politik masing-masing negara.<span id="more-35"></span></p>
<p>Dari tiga aspek ini dapat dikaji bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus dilihat dari kepentingan ekologi yang disikapi dengan teknologi. Kemudian aspek sosial, yang mana selama ini salah satu imbas dari bencana alam adalah masyarakat, serta kebijakan pemerintah tiap-tiap negara dalam menyiapkan instrument hukum dan aturan dalam upaya menata mekanisme didalam rangka penyelamatan lingkungan tersebut.</p>
<p><strong>1. Gambaran umum pemanasan global (<em>global warming</em>)</strong></p>
<p><em>Global warming</em> merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18°C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan <em>Intergovernmental Panel on Climate Change</em> (<em>IPCC</em>) memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1,1 sampai 6,4°C pada tahun 1990-2100 (Damayanti, 2007). Menurut para ahli klimatologi di NASA, tahun 2007 merupakan tahun kedua terpanas pada abad ini, bersaing dengan tahun 1998. Berikut ini disajikan grafik temperatur permukaan global tahunan. Dari grafik tersebut dapat dinterpretasikan bahwa pada tahun 1951-1980 grafik temperatur permukaan global tahunan relatif terhadap temperatur rata-rata dan pada titik tahun 2007 merupakan anomali di bulan ke 11.</p>
<p style="text-align:center;">Gambar 1. Grafik temperatur permukaan global (<em>Sumber : NASA Goddard Institute for Space Studies/GISS)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pemanasan terbesar pada tahun 2007 terjadi di Artik dan daerah sekitarnya yang memiliki lintang tinggi. Pemanasan global sendiri memiliki efek yang sangat besar di area kutub dengan menghilangnya salju dan memicu peningkatan air terbuka (lautan) yang menyerap lebih banyak cahaya dan panas matahari. Salju dan es memantulkan cahaya matahari, saat salju menghilang maka menghilang pula kemampuan mereka untuk mengalihkan panas matahari. Anomali paling besar di Artik pada tahun 2007 konsisten dengan rekaman geografi terhadap lautan es Artik di bulan September 2007 (Ivie, 2008).</p>
<p style="text-align:center;">Gambar 2.  Anomali temperatur pada tahun 2007 <em>(Sumber : NASA Goddard Institute for Space Studies /GISS)</em></p>
<p><strong><em>Kondisi permukaan bumi akibat pemanasan global (global warming)</em></strong></p>
<p>Kenaikan suhu 1ºC sampai 3ºC merupakan titik puncak, tetapi jika naik sampai pada 6 ºC maka peningkatan ini dapat menyebabkan kepunahan pada hampir semua kehidupan. Menurut Ranger (2009), pengaruh kenaikan suhu terhadap kondisi di permukaan bumi adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Kenaikan Suhu 1 Derajat</strong>; Pada kenaikan suhu 1 derajat, Kutub Utara akan kehilangan es setengah tahun penuh, Atlantik Selatan yang sebelumnya tidak ada badai akan mengalami serangan badai dan di barat AS terjadi kekeringan parah yang mengakibatkan banyak penduduk menderita.</li>
<li><strong>Kenaikan Suhu 2 Derajat</strong>; Beruang kutub berjuang untuk hidup saat lapisan es mencair. Lapisan es di Greenland mulai menghilang, sedangkan batu karang menjadi lenyap. Permukaan air laut mengalami kenaikan 7 meter secara global.</li>
<li><strong>Kenaikan Suhu 3 Derajat</strong>; Hutan hujan di Amazon mengering dan pola cuaca El Nino bertambah intensitasnya menjadi sesuatu yang biasa. Eropa secara berulang mengalami musim panas yang teramat panas yang sangat jarang terjadi sebelumnya. Jutaan dan milyaran orang akan berpindah dari sub tropik menuju daerah pertengahan garis lintang.</li>
<li><strong>Kenaikan Suhu 4 Derajat </strong>; Air laut akan meninggi dan meluap membanjiri kota-kota di daerah pesisir. Menghilangnya lapisan es akan mengurangi banyak persediaan air tawar. Suatu bagian di Kutub Selatan akan tenggelam dan menyebabkan area air yang meluap semakin jauh. Temperatur musim panas di London akan menjadi 45ºC.</li>
<li><strong>Kenaikan Suhu 5 Derajat </strong>; Daerah yang tidak bisa dihuni semakin menyebar, tumpukan es dan air tanah sebagai sumber air untuk kota-kota besar akan mengering dan jutaan pengungsi akan bertambah. Kebudayaan manusia akan mulai menghilang seiring dengan perubahan iklim yang dramatik ini. Dalam hal ini kelompok yang kurang mampu sepertinya akan menjadi paling menderita. Tidak ada lagi es yang tersisa pada kedua kutub seiring dengan punahnya bermacam spesies di lautan dan tsunami dalam skala besar memusnahkan kehidupan dekat pantai.</li>
<li><strong>Kenaikan Suhu 6 Derajat </strong>; Pada kenaikan suhu 6 derajat, kepunahan massal sebesar 95% akan terjadi, makhluk yang masih hidup akan mengalami serangan badai dan banjir besar yang terus menerus, hidrogen sulfat dan kebakaran akibat gas metana akan menjadi hal yang biasa. Gas ini berpotensi menjadi bom atom dan tidak ada yang mampu bertahan hidup kecuali bakteri. Hal ini akan menjadi skenario hari kiamat.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 3. Efek dari global warming <em>(Sumber: http://yauhui.net. )</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>2. Penyebab pemanasan global (global warming)</strong></p>
<p><strong><em>Efek Rumah Kaca (Green House Effect)</em></strong></p>
<p>Istilah gas rumah kaca berasal dari pengalaman para petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan dalam rumah kaca pada akhir musim panas, musim dingin, dan permulaan musin semi. Para petani merasakan panas pada waktu hari cerah, suhu di dalam rumah kaca lebih panas daripada suhu di luar. Sebabnya ialah kaca transparen untuk sinar matahari. Sinar matahari yang mengenai benda-benda di dalam rumah kaca dipantulkan kembali sebagai sinar panas, yaitu infra merah yang bergelombang panjang. Kaca tidak transparan untuk sinar panas ini dan sinar tersebut terperangkap di dalam rumah kaca. Naiklah suhu dalam rumah kaca, kenaikan suhu dalam rumah kaca itu disebut efek rumah kaca (Soemarwoto, 2001).</p>
<p>Lapisan atmosfir terdiri dari, berturut-turut: <em>troposfir, stratosfir, mesosfir</em> dan <em>termosfer</em>. Lapisan terbawah (<em>troposfir</em>) adalah yang yang terpenting dalam kasus <em>ERK</em>. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar <em>alpha</em>, <em>beta </em>dan <em>ultraviolet</em>) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk ke dalam <em>troposfir</em>. Di dalam <em>troposfir</em> ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan <em>troposfir</em> oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah (Syahputra, 2007).</p>
<p>Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H<sub>2</sub>0, CO<sub>2</sub>, metana (CH<sub>4</sub>), dan ozon (O<sub>3</sub>). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di <em>troposfir</em> dan permukaan bumi menjadi naik. Terjadilah Efek Rumah Kaca (<em>ERK</em>). Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca. Seandainya tidak ada <em>ERK,</em> suhu rata-rata bumi akan sekitar minus 180 ºC terlalu dingin untuk kehidupan manusia. Dengan adanya <em>ERK</em>, suhu rata-rata bumi 330 ºC lebih tinggi, yaitu 150 ºC. Jadi, <em>ERK </em>membuat suhu bumi sesuai untuk kehidupan manusia. Namun, ketika pancaran kembali sinar inframerah terperangkap oleh CO<sub>2</sub> dan gas lainnya, maka sinar inframerah akan kembali memantul ke bumi dan suhu bumi menjadi naik. Dibandingkan tahun 1950-an misalnya, kini suhu bumi telah naik sekitar 0,20 Cº lebih (Razak, 2008).</p>
<p>Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO<sub>2</sub>) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO<sub>2</sub> ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO<sub>2</sub> dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda (Razak, 2008).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><em>Gas Rumah Kaca dan Penyebabnya</em></span></strong></p>
<p>Selain gas CO<sub>2</sub>, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (<em>SO<sub>2</sub></em>), nitrogen monoksida (<em>NO</em>) dan nitrogen dioksida (<em>NO<sub>2</sub></em>) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (<em>CH<sub>4</sub></em>) dan khloro fluoro karbon (<em>CFC</em>). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Menurut Wikipedia (2007) bahwa beberapa pengertian yang berkaitan dengan Gas Rumah Kaca adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>Gas rumah kaca</em></strong></p>
<p>Merupakan gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktifitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida (CO<sub>2</sub>) yang timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernafasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan). Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida. Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara regional, dan aktifitas manusia tidak secara langsung mempengaruhi konsentrasi uap air kecuali pada skala lokal.</p>
<p>Dalam model iklim, meningkatnya temperatur atmosfer yang disebabkan efek rumah kaca akibat gas-gas antropogenik akan menyebabkan meningkatnya kandungan uap air di troposfer, dengan kelembapan relatif agak konstan. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan meningkatnya efek rumah kaca; yang mengakibatkan meningkatnya temperatur; dan kembali semakin meningkatkan jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus menerus  berkelanjutan sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan). Oleh karena itu, uap air berperan sebagai umpan balik positif terhadap aksi yang dilakukan manusia yang melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO<sub>2</sub>. Perubahan dalam jumlah uap air di udara juga berakibat secara tidak langsung melalui terbentuknya awan.lepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.</p>
<p><strong><em>Karbondioksida (CO<sub>2</sub>)</em></strong></p>
<p>Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian. Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktifitas manusia yang melepaskan karbondioksida ke udara jauh  lebih cepat dari kemampuan alam untuk menguranginya.</p>
<p>Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul udara (281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383 ppm (peningkatan 36 persen). Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100, karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih tinggi malah memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila dibandingkan masa sebelum revolusi industri.</p>
<p><strong><em>Metana (CH<sub>4</sub>)</em></strong></p>
<p>Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700- an, jumlah metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.</p>
<p><strong><em>Nitrogen Oksida (NO)</em></strong></p>
<p>Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.</p>
<p><strong><em>Gas lainnya</em></strong></p>
<p>Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran berflourinasi dihasilkan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22) terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan temoat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa negara berkembang masih menggunakan klorofluorokarbon (CFC) sebagai media pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Pada tahun 2000, para ilmuan mengidentifikasi bahan baru yang meningkat secara substansial di atmosfer. Bahan tersebut adalah trifluorometil sulfur pentafluorida. Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.</p>
<p><strong><em>Efek Umpan Balik</em></strong></p>
<p>Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan <a title="Air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air">air</a>. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO<sub>2</sub>, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO<sub>2</sub> sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, <a title="Kelembaban relatif" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelembaban_relatif">kelembaban relatif</a> udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO<sub>2</sub> memiliki usia yang panjang di atmosfer.</p>
<p>Efek umpan balik karena pengaruh <a title="Awan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awan">awan</a> sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek nettonya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan <em>IPCC</em> ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan <em>IPCC</em> ke Empat.</p>
<p>Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (<a title="Albedo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Albedo"><em>albedo</em></a><em>)</em> oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.</p>
<p>Umpan balik positif akibat terlepasnya CO<sub>2</sub> dan CH<sub>4</sub> dari melunaknya tanah beku <em>(</em><a title="Permafrost (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Permafrost&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>permafrost</em></a><em>)</em> adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH<sub>4</sub> yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan <a title="Diatom" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Diatom">diatom</a> daripada <a title="Fitoplankton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton">fitoplankton</a> yang merupakan penyerap karbon yang rendah.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Variasi Matahari</em></strong></p>
<p>Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.<sup> </sup>Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan <a title="Stratosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stratosfer">stratosfer</a> sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,<sup> </sup>yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan <a title="Lapisan ozon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lapisan_ozon">lapisan ozon</a> juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an). Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.</p>
<p>Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari <em>Duke University</em> mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.<sup> </sup>Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.</p>
<p>Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a>, <a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman">Jerman</a> dan <a title="Swiss" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Swiss">Swiss</a> menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat &#8220;keterangan&#8221; dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat &#8220;keterangannya&#8221; selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemanasan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Peternakan (Komsumsi Daging) dan Pertanian</em></strong></p>
<p><em>World Watch Institute</em>, dalam <em>Watch Magazine</em> edisi November/Desember 2009 menyebut industri peternakan dunia menyumbang sedikitnya 51 persen gas rumah kaca penyebab pemanasan global. <em>World Watch Institute</em> adalah organisasi riset independen di AS yang berdiri sejak 1974. Organisasi ini dikenal kritis terhadap isu lingkungan dan hanya bersuara berdasarkan fakta. Laporan dari <em>World Watch Insitute</em> banyak digunakan lembaga bergengsi seperti <em>Greenpeace </em>(Sumber: Kompas.com.).</p>
<p>Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO<sub>2 </sub>dalam jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO<sub>2)</sub>. Berikut garis besarnya menurut <em>FAO</em>:</p>
<p>1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak</p>
<ul>
<li>Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO<sub>2</sub> setiap tahunnya</li>
<li>Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)</li>
<li>Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO<sub>2</sub> per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan</li>
<li>Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO<sub>2</sub> per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.</li>
<li>Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO<sub>2</sub> per tahunnya</li>
</ul>
<p>2. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan</p>
<ul>
<li>Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.</li>
<li>Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.</li>
</ul>
<p>3. Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen</p>
<ul>
<li>Emisi CO<sub>2</sub> dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.</li>
<li>Emisi CO<sub>2</sub> dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.</li>
</ul>
<p>Dari uraian di atas, dapat dilihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di Australia, emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor peternakan Australia menyumbang 3 juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216 juta ton CO<sub>2</sub>), sedangkan sektor pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang 180 juta ton CO<sub>2</sub> per tahunnya <em>(Sumber: Kompas.com).</em></p>
<p>Aktivitas pertanian rupanya menyumbang sekitar 20% gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Sektor pertanian memproduksi 50% gas metana (CH<sub>4</sub>) dan 70% nito dioksida (N<sub>2</sub>O). Dalam percaturan global, pertanian di negara maju yang telah padat teknologi dapat menyumbang pengurangan emisi CO<sub>2</sub> sebanyak 40%. Produksi <em>biofuel</em> dari perkebunan di negara-negara maju juga memberikan kontribusi sebesar 32%. Pengurangan emisi NO<sub>2</sub> dari pertanian negara maju bisa mencapai 30% jika penggunaan pupuk nitrogen dikurangi atau dilakukan secara efesien <em>(Harian Kompas, 2009).</em></p>
<p><strong>3. Dampak Pemanasan global (<em>Global Warming)</em></strong></p>
<p>Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.</p>
<p><strong>a. c</strong><strong>uaca</strong></p>
<p>Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (<em>Northern Hemisphere</em>) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat (Hariansyah, 2008).</p>
<p>Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini, badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (<em>hurricane</em>) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim (Hariansyah, 2008).</p>
<p><strong>b. tinggi muka laut</strong></p>
<p>Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 &#8211; 25 cm (4 &#8211; 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 &#8211; 88 cm (4 &#8211; 35 inchi) pada abad ke- 21.</p>
<p>Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades (Hariansyah, 2008).</p>
<p><strong>c. pertanian</strong></p>
<p>Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika <em>snowpack </em>(kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat (Hariansyah, 2008).</p>
<p><strong>d. hewan dan tumbuhan</strong></p>
<p>Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah (Hariansyah, 2008).</p>
<p>Pemanasan global juga memusnahkan 30 persen satwa dan tumbuhan Indonesia akibat kenaikan suhu 0,2-1 derajat celcius dalam 34 tahun terakhir ini. Salah satu anomali dari dampak pemanasan global ini dengan melihat prilaku orang utan <em>(Pongo Pygmeus) </em>di pedalaman hutan Kalimantan. Dulu satwa arboreal ini hidup di pucuk-pucuk memakan buah dan serangga, namun, kini banyak ditemui orang utan berjalan-jalan di darat (Pratomo, 2007).</p>
<p><strong>e. kesehatan manusia</strong></p>
<p>Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan <em>encephalitis</em>. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora <em>mold </em>dan serbuk sari (Hariansyah, 2008).</p>
<p><strong>4. Upaya Pengendalian Pemanasan Global (<em>Global Warming)</em></strong></p>
<p><strong>Menghilangkan Karbon<em> </em></strong></p>
<p>Konsumsi total <a title="Bahan bakar fosil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_fosil">bahan bakar fosil</a> di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.</p>
<p>Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.<strong><em> </em></strong></p>
<p>Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut <em>carbon sequestration</em> (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.<strong> </strong></p>
<p>Pada dasarnya, yang harus kita lakukan adalah mengurangi semaksimal mungkin segala aktifitas yang menghasilkan emisis gas rumah kaca. Ada beberapa hal utama yang dapat dilakukan dalam menyelamatkan planet bumi, yaitu:</p>
<ol>
<li>Membatasi emisi karbon dioksida</li>
<li>Membudayakan gemar menanam pohon dan menggunakan tanaman hidup sebagai pagar rumah.</li>
<li>Penebangan pohon harus diikuti dengan penanaman kembali bibit pohon yang sama dalam jumlah lebih banyak</li>
<li>Daur ulang (<em>Recycle)</em> dan gunakan ulang(<em>Reuse</em>)</li>
<li>Menggunakan alat transportasi alternatif yang berbahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon</li>
<li>Mengurangi atau menghentikan makan daging</li>
<li>Menghindari membakar sampah dan  membuka lahan dengan cara membakar</li>
<li>Menghemat energi dan listrik misalnya; mengganti komputer personal dengan komputer jinjing yang dapat menyimpan arus listrik, mematikan atau mencabut koneksi listrik alat-alat elektronik setelah digunakan.</li>
<li>Merawat mesin kendaraan secara berkala agar emisi gas buang kendaraan baik,</li>
<li>Bagi industri, selalu memantau emisi gas buang limbahnya.</li>
</ol>
<p><strong>Kerjasama antar negara melalui Persetujuan Internasional</strong></p>
<p>Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada <a title="Earth Summit (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Earth_Summit&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Earth Summit</em></a> di <a title="Rio de Janeiro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rio_de_Janeiro">Rio de Janeiro</a>, <a title="Brazil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brazil">Brazil</a>, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di <a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang">Jepang</a>, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan <a title="Protokol Kyoto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto">Protokol Kyoto</a>.</p>
<p>Denmark akan menjadi tuan rumah pertemuan PBB yang membahas mengenai perubahan iklim (COP 15) pada 7-18 Desember 2009 di Kopenhagen. Pemerintah Denmark telah melayangkan undangan kepada 191 kepala negara untuk menghadiri konferensi tersebut.<strong> </strong>COP 15 ini memiliki arti penting karena diharapkan bisa menghasilkan protokol baru pengganti Protokol Kyoto yang berakhir periode komitmennya pada tahun 2012 mendatang. Undangan kepada para kepala negara tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri Denmark Lars LokkeRasmussen dan dikirimkan melalui jalur diplomatik (Sumber: Kompas.com).</p>
<p>Pembicaraan pra-COP yang dilaksanakan awal pekan ini di Kopenhagen, menunjukkan masih adanya tawar menawar keras, terutama dari negara maju, khususnya Amerika Serikat, mengenai target pengurangan emisinya. Demikian pula China, sebagai negara penyumbang emisi kedua terbesar. Kendati demikian, Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) sekaligus Ketua Delegasi RI (Delri) pada COP15, Rachmat Witoelar, melihat masih adanya peluang untuk menciptakan kesepakatan-kesepakatan yang akan bermanfaat. Meskipun, bukan keputusan ideal, seperti yang dimandatkan. COP13 di Bali pada tahun 2007 lalu, memandatkan agar COP15 berhasil merumuskan draft baru pengganti Protokol Kyoto (Sumber: Kompas.com).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><em>Global warming</em> merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18°C dalam 100 tahun terakhir.</p>
<p>Penyebab pemanasan global (<em>Global Warming) </em>antara lain disebabkan oleh Efek Rumah Kaca (<em>Green House Effect</em>), efek umpan balik, variasi matahari dan peternakan (komsumsi daging).</p>
<p><em>Global warming</em> memberikan dampak terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan dan tumbuahan, kesehatan manusia.</p>
<p>Upaya dalam mengatasi<em> Global warming</em> melalui cara menghilangkan karbon dan kerjasama antar negara melaui persetujuan internasional.</p>
<p>Oleh karena itu, hal penting yang dapat dilakukan dalam meningkatkan upaya menanggulangi pemanasan global ini adalah :</p>
<ol>
<li>Perlunya penanamkan jiwa yang mencintai lingkungan dan menjaga bumi dari kerusakan.</li>
<li>Perlunya menyamakan gerak langkah kita sebagai sekelompok manusia yang mengiginkan bumi ini selalu terjaga, selain itu kita juga harus selalu bersemangat untuk mengkampanyekan seruan ” <em>Stop Global Warming and Save Our Earth</em>”.</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Damayanti, C.S. 2007. <em>Global Warming dan Penyakit Hewan (Pdf. File)</em>. Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Haneda, 2004. <em>Hubungan efek Rumah Kaca Pemanasan Global &amp; Perubahan Iklim.</em> Online.(<a href="http://www.climatechange.menlh.go.id/">http://www.climatechange.menlh.go.id</a>). Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Hariansyah, Catur Aries, dan Sulistiono. 2008. <em>Pemanasan Gobal Terkuak Kembali (Pdf File).</em> Karya Ilmiah. Bandar Lampung: Universitas Lampung.<em> </em>Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Ivie. 2008. <em>Global Warming Tahun 2007, Tahun Terpanas Kedua di Bumi. </em>Online. (<a href="http://langitselatan.com/">http://langitselatan.com</a>). Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>Kodra, A.H., Syaukani. 2004. <em>Bumi Makin Panas, Banjir Makin Luas; Menyibak Tragedi Kehancuran Hutan. </em>Bandung: Nusantara.</p>
<p>Lukas Adi Prasetya. 2009. 25 November. <em>Kurangi Konsumsi Daging, Cegah Pemanasan Global; Cegah Pemanasan Global Bukan Sekedar Hemat Listrik dan BBM. </em>Online (<a href="http://kompas.com/">http://kompas.com</a>).<em> </em>Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>Ptatomo, Lutfi. 2007. <em>Hancurnya Bumi; Ujung Global Warming. </em>Online (<a href="http://beritahabitat.net/">http://beritahabitat.net</a><strong>).</strong><em> </em>Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>Ranger. 2009. <em>Global Warming (Pemanasan Global). </em>Online. (<a href="http://gumuxranger.web.id/">http://gumuxranger.web.id</a>). Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>Razak, Abdul. 2008. <em>Kajian Yuridis CarbonTrade dalam Penyelesaian Efek Rumah Kaca (Pdf File). </em>Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Soemarwoto, Idjah. 2001. <em>Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. </em>Yogyakarta: Gajah Mada University Press.</p>
<p>Syahputra, Benny. 2007. <em>Mengenal Efek Rumah Kaca</em>. Online. (<a href="http://www.bennysyah.edublogs.org/">http://www.bennysyah.edublogs.org</a>). Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Wedhaswary, dwi dan Rachmat Witoelar. 2009. 23 November. <em>Emil Salim: Dengan atau Tanpa AS, Komitmen Iklim Jalan Terus. </em>Online (<a href="http://kompas.com/">http://kompas.com</a>).<em> </em>Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>Wikipedia. 2007. <em>Gas Rumah Kaca</em>. Online. (<a href="http://www.id.wikipedia.org/">http://www.id.wikipedia.org</a>). Diakses pada tanggal 23 November 2009.</p>
<p>Wsn. 2009. 15 November. <em>Pemerintah Denmark Undang 191 Kepala Negara ke Kopenhagen</em>. Online (<a href="http://kompas.com/">http://kompas.com</a>).<em> </em>Diakses pada tanggal 29 November 2009.</p>
<p>“<em>Mari Duduk Bersama dan Membuka Hati”</em>. 2009. 2 Desember. Kompas. Hlm 14.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=35&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/12/28/global-warming-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Hasil Belajar dan Kreativitas Siswa melalui Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping)</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/11/26/meningkatkan-hasil-belajar-dan-kreativitas-siswa-melalui-pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mind-mapping/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/11/26/meningkatkan-hasil-belajar-dan-kreativitas-siswa-melalui-pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mind-mapping/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Mind Mapping]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran dengan Peta Pikirian]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Konsep]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Setiap manusia lahir dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk potensi pikiran. Namun, pada praktik pembelajaran, penggunaannya masih jauh dari optimal. Hal ini tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran di sekolah, kondisi ini masih diperburuk oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=30&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang </strong></p>
<p>Setiap manusia lahir dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk potensi pikiran. Namun, pada praktik pembelajaran, penggunaannya masih jauh dari optimal. Hal ini tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran di sekolah, kondisi ini masih diperburuk oleh praktik pembelajaran yang keliru, seperti pemberian tambahan pembelajaran baik di dalam maupun di luar sekolah. Padahal proses tersebut, hanya dapat bermakna repetisi dari proses pembelajaran sebelumnya dan tidak memberi nilai tambah bagi pemahaman siswa.</p>
<p>Pembelajaran tidak hanya terbatas pada membaca buku atau mendengar pengajaran yang tidak memberi pemahaman. Menurut Yovan (2008), pembelajaran melibatkan pemikiran yang bekerja yang bekerja secara asosiatif, sehingga dalam setiap pembelajaran terjadi penghubungan antar satu informasi dengan informasi yang lain. Pembelajaran sangat erat kaitannya dengan penggunaan otak sebagai pusat aktivitas mental mulai dari pengambilan, pemrosesan, hingga penyimpulan informasi. Dengan demikian, pembelajaran merupakan proses sinergisme antara otak, pikiran dan pemikiran untuk menghasilkan daya guna yang optimal.</p>
<p>Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran, maka proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan keseluruhan otak. Menurut Potter (2002), ketika manusia berkomunikasi dengan kata-kata, otak pada saat yang sama harus mencari, memilah, merumuskan, merapikan, mengatur, menghubungkan, dan menjadikan campuran antara gagasan-gagasan dengan kata-kata yang sudah mempunyai arti itu dapat dipahami. Pada saat yang sama, kata-kata ini dirangkai dengan gambar, symbol, citra (kesan), bunyi, dan perasaan. Sekumpulan kata yang bercampur aduk tak berangkai di dalam otak, keluar secara satu demi satu, dihubungkan oleh logika, di atur oleh tata bahasa, dan menghasilkan arti yang dapat dipahami. <span id="more-30"></span></p>
<p>Salah satu upaya yang dapat digunakan dalam membuat citra visual dan perangkat grafis lainnya sehingga dapat memberikan kesan mendalam adalah peta pikiran. Peta Pikiran merupakan teknik pencatat yang dikembangkan oleh Tony Buzan dan didasarkan pada riset tentang cara kerja otak. Peta Pikiran menggunakan pengingat visual dan sensorik alam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah. Oleh karena itu, proses pembelajaran seharusnya dapat menggunakan teknik pencatatan peta pikiran sebagai salah satu cara belajar yang dapat dilatihkan kepada siswa. Penggunaan Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam pembelajaran diarapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa.</p>
<p><strong>Rumusan Masalah </strong></p>
<p>Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bagaimanakah cara belajar yang berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind Mapping)?</li>
<li>Bagaimanakah implementasi pembelajaran berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping)?</li>
<li>Bagaimanakah pengaruh pembelajaran berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping) terhadap hasil belajar siswa ?</li>
</ol>
<p><strong>Belajar Berbasis pada Konsep Peta Pikiran (Mind Maping) </strong></p>
<p>Belajar didefinisikan sebagai semua perubahan pada kapabilitas dan perilaku organisme, baik secara mental maupun fisik, yang diakibatkan oleh pengalaman (Yovan, 2008). Kemampuan belajar merupakan alat andalan dalam mempertahankan kehidupan. Menurut Potter (2002), ada dua kategori umum tentang bagaimana kita belajar, yaitu pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas), dan kedua cara kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak). Dengan demikian, cara belajar merupakan kombinasi dari bagaimana menyerap, lalu mengatur, dan mengolah informasi.</p>
<p>Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind Mapping) merupakan cara belajar yang menggunakan konsep pembelajaran komprehensif Total-Mind Learning (TML). Pada konteks TML, pembelajaran mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap saat dan di setiap tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar merupakan proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan hidup.</p>
<p>Dari tinjauan Psikologis, belajar merupakan aktivitas pemrosesan informasi, yang dapat diartikan sebagai proses pembentukan pengetahuan (proses kognitif). Menurut Peaget, setiap anak memiliki skema (scheme) yang merupakan konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Sedangkan menurut Vygotsky, kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental (Santrock, 2007).</p>
<p>Fakta yang harus disadari, bahwa dunia pembelajaran bagi anak saat ini dibanjiri dengan informasi yang up to date setiap saat. Ketidakmampuan memroses informasi secara optimal di tengah arus informasi menyebabkan banyak individu yang mengalami hambatan dalam belajar ataupun bekerja. Menurut Yovan (2008), hambatan pemrosesan informasi terletak pada dua hal utama, yaitu proses pencatatan dan proses penyajian kembali. Keduanya merupakan proses yang saling berhubungan satu sama lain.</p>
<p>Dalam hal pencatatan, seringkali individu tanpa disadari membuat catatan yang tidak efektif. Sebagian besar melakukan pencatatan secara linear, bahkan tidak sedikit pula yang membuat catatan dengan menyalin langsung seluruh informasi yang tersaji pada buku atau penjelasan lisan. Hal ini mengakibatkan hubungan antaride/informasi menjadi sangat terbatas dan spesifik, sehingga berujung pada minimnya kreativitas yang dapat dikembangkan setelahnya. Selain itu, bentuk pencatatan seperti ini juga memunculkan kesulitan untu mengingat dan menggunakan seluruh informasi tersebut dalam belajar atau bekerja (Yovan, 2008).</p>
<p>Sedangkan dalam hal penyajian kembali informasi, kemampuan yang paling dibutuhkan adalah memanggil ulang (recalling) informasi yang telah dipelajari. Pemaggilan ulang merupakan kemampuan menyajikan secara tertulis atau lisan berbagai informasi dan hubungannya, dalam format yang sangat personal. Hal ini merupakan salah satu indikator pemahaman individu atas informasi yang diberikan. Dengan demikian, proses pemanggilan ulang sangat erat hubungannya dengan proses pengingatan atau remembering (Yovan, 2008).</p>
<p>Salah satu hal yang berperan dalam pengingatan adalah asosiasi yang kuat antarinformasi dengan interpretasi dari informasi tersebut. Kondisi ini, hanya bisa terjadi ketika informasi tersebut memiliki representasi mental di pikiran. Contohnya, jika seseorang ingin mengingat “mobil”, maka sebelumnya ia perlu merepresentasikan mobil dalam pikirannya, mungkin berupa gambar, merek, harga atau kecepatan. Hubungan tersebut perlu dipahami secara personal, sehingga setelahnya tercipta representasi mental yang lebih mudah diingat.</p>
<p>Bentuk pencatatan yang dapat mengakomodir berbagai maksud di atas adalah dengan Peta Pikiran (Mind Map). Dengan peta pikiran, individu dapat mengantisipasi derasnya laju informasi dengan memiliki kemampuan mencatat yang memungkinkan terciptanya “hasil cetak mental” (mental computer printout). Hal ini tidak hanya dapat membantu dalam mempelajari informasi yang diberikan, tapi juga dapat merefleksikan pemahaman personal yang mendalam atas informasi tersebut. Selain itu Mind Mapping juga memungkinkan terjadinya asosiasi yang lebih lengkap pada informasi yang ingin dipelajari, baik asosiasi antarsesama informasi yang ingin dipelajari ataupun dengan informasi yang telah tersimpam sebelumnya di ingatan (Yovan, 2008).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/display.jpg"><img class="size-medium wp-image-38 aligncenter" title="Display" src="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/display.jpg?w=404&#038;h=251" alt="" width="404" height="251" /></a></p>
<p>Busan (1993) <em>dalam</em> Djohan (2008) mengemukakan, bahwa A Mind Map® <em>is powerful graphic technique which provides a universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skills – word, image, number, logic, rhythm, colour and spatial awareness – in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it give you a freedom to roam the infinite expanses of your brain.</em> Dari pengertian tersebut, Johan (2008) menyimpulkan bahwa Peta Pikiran merupakan suatu teknik grafik yang sangat ampuh dan menjadi kunci yang universal untuk membuka potensi dari seluruh otak, karena menggunakan seluruh keterampilan yang terdapat pada bagian neo-korteks dari otak atau yang lebih dikenal sebagai otak kiri dan otak kanan.</p>
<p>Ditinjau dari segi waktu Mind Mapping juga dapat mengefisienkan penggunaan waktu dalam mempelajari suatu informasi. Hal ini utamanya disebabkan karena Mind Mapping dapat menyajikan gambaran menyeluruh atas suatu hal, dalam waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain, Mind Mapping mampu memangkas waktu belajar dengan mengubah pola pencatatan linear yang memakan waktu menjadi pencatatan yang efektif yang sekaligus langsung dapat dipahami oleh individu.</p>
<p>Menurut Yovan (2008), keutamaan metode pencatatan menggunakan Mind Mapping, antara lain:</p>
<ol>
<li>tema utama terdefenisi secara sangat jelas karena dinyatakan di tengah.</li>
<li>level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.</li>
<li>hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.</li>
<li>lebih mudah dipahami dan diingat.</li>
<li>informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur Mind Mapping, sehingga mempermudah proses pengingatan.</li>
<li>masing-masing Mind Mapping sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan.</li>
<li>mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.</li>
</ol>
<p>Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.</p>
<p>Mind Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap materi. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap saat. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping. Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi proses dan hasil belajar, sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif maka akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar.</p>
<p><strong>Implementasi Pembelajaran berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping)</strong></p>
<p><strong>Pembuatan Peta Pikiran </strong></p>
<p>Menurut Djohan (2008), proses pembuatan sebuah Mind Mappig (MM) secara step by step dapat dibagi menjadi empat langkah yang harus dilakukan secara berurutan yaitu :</p>
<ol>
<li>Menentukan Central Topic yang akan dibuatkan MM-nya, untuk buku pelajaran Central Topik biasanya adalah Judul buku atau Judul bab yang akan dipelajari dan harus diletakkan ditengah kertas serta usahakan berbentuk image/gambar.</li>
<li>Membuat Basic Ordering Ideas – BOIs untuk Central Topik yang telah dipilih, BOIs biasanya adalah judul Bab atau Sub-Bab dari buku yang akan dipelajari atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (What, Why, Where, When, Who dan How).</li>
<li>Melengkapi setiap BOIs dengan cabang-cabang yang berisi data-data pendukung yang terkait. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting karena pada saat inilah seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap cabang BOIs secara asosiatif dan menggunakan struktur radian yang menjadi ciri yang paling khas dari suatu MM.</li>
<li>Melengkapi setiap cabang dengan Image baik berupa gambar, simbol, kode, daftar, grafik dan garis penghubung bila ada BOIs yang saling terkait satu dengan lainnya. Tujuan dari langkah ini adalah untuk membuat sebuah MM menjadi lebih menarik sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan diingat.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><a href="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/laws.jpg"></a></p>
<p>Dalam membuat Mind Mapping, Tony Buzan telah menyusun sejumlah aturan yang harus diikuti agar Mind Mapping yang dibuat dapat memberikan manfaat yang optimal. Berikut adalah ringkasan dari Law of MM:</p>
<ol>
<li><strong>Kertas: </strong>polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengah-tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna.</li>
<li><strong>Garis: </strong>lebih tebal untuk BOIs dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau image yang ada di atasnya. Seluruh garis harus tersambung ke pusat.</li>
<li><strong>Kata: </strong>menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.</li>
<li><strong>Image:</strong> gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan Image yang 3 Dimensi agar lebih menarik lagi.</li>
<li><strong>Warna: </strong>gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5 – 6 warna. Warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang harus mengikuti warna BOIs.</li>
<li><strong>Struktur:</strong> menggunakan struktur radian dengan sentral topic terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabang-cabangnya menyebar ke segala arah. BOIs umumnya terdiri dari 2 – 7 buah yang disusun sesuai dengan arah jarum jam dimulai dari arah jam 1.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-37   aligncenter" title="Laws" src="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/laws.jpg?w=476&#038;h=281" alt="" width="476" height="281" /></p>
<p>Aplikasi Mind Mapping dalam Pembelajaran Dalam tahap aplikasi, terdapat empat langkah yang harus dilakukan proses pembelajaran berbasis Mind Mapping, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Overview: </strong>Tinjauan Menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses pembelajaran baru dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberi gambaran umum kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari. Khusus untuk pertemuan pertama pada setiap awal Semester, Overview dapat diisi dengan kegiatan untuk membuat Master Mind Map® yang merupakan rangkuman dari seluruh topik yang akan diajarkan selama satu Semester yang biasanya sudah ada dalam Silabus. Dengan demikian, sejak awal siswa sudah mengetahui topik apa saja yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi siswa yang aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan.</li>
<li><strong>Preview: </strong>Tinjauan Awal merupakan lanjutan dari Overview sehingga gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada Overview dan dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari Silabus. Dengan demikian, siswa diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah Preview dapat dilewati sehingga langsung masuk ke langkah Inview.</li>
<li><strong>Inview:</strong> Tinjauan Mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, di mana suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama Inview ini, siswa diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu siswa dalam memahami dan menguasai bahan yang diajarkan.</li>
<li><strong>Review: </strong>Tinjauan Ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pelajaran dan berupa ringkasan dari bahan yang telah diajarkan serta ditekankan pada informasi, konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh siswa. Hal ini akan dapat membantu siswa untuk fokus dalam mempelajari-ulang seluruh bahan yang diajarkan di sekolah pada saat di rumah. Review dapat juga dilakukan saat pelajaran akan dimulai pada pertemuan berikutnya untuk membantu siswa mengingatkan kembali bahan yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya.</li>
</ol>
<p><strong>Pengaruh Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping) terhadap Hasil Belajar Siswa </strong></p>
<p>Prestasi belajar adalah puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan keberhasilan belajar siswa terhadap pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Salah satu tes yang dapat melihat pencapaian hasil belajar siswa adalah dengan melakukan tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar yang dilaksanakan oleh siswa memiliki peranan penting, baik bagi guru ataupun bagi siswa yang bersangkutan. Bagi guru, tes prestasi belajar dapat mencerminkan sejauh mana materi pelajaran dalam proses belajar dapat diikuti dan diserap oleh siswa sebagai tujuan instruksional. Bagi siswa tes prestasi belajar bermanfaat untuk mengetahui sebagai mana kelemahan-kelemahannya dalam mengikuti pelajaran.</p>
<p>Mind Mapping atau pemetaan pikiran merupakan salah satu teknik mencatat tingkat tinggi. Informasi berupa materi pelajaran yang diterima siswa dapat diingat dengan bantuan catatan. Peta pikiran merupakan bentuk catatan yang tidak monoton karena memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Otak dapat menerima informasi berupa gambar, simbol, citra, musik dan lain lain yang berhubungan dengan fungsi kerja otak kanan.</p>
<p>Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang memusatkan kegiatan belajar pada guru. Siswa hanya duduk, mendengarkan dan menerima informasi. Cara penerimaan informasi akan kurang efektif karena tidak adanya proses penguatan daya ingat, walaupun ada proses penguatan yang berupa pembuatan catatan, siswa membuat catatan dalam bentuk catatan yang monoton dan linear.</p>
<p>Penggunaan metode pembelajaran yang sesuai sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Dengan metode pembelajaran yang sesuai, siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan dalam dirinya. Proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh emosi di dalam dirinya. Emosi dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar apakah hasilnya baik atau buruk. Pembelajaran berbasis peta pikiran, berusaha menggabungkan kedua belahan otak yakni otak kiri yang berhubungan dengan hal yang bersifat logis (seperti belajar) dan otak kanan yang berhubungan dengan keterampilan (aktivitas kreatif). Dengan demikian, adanya teknik Mind Mapping atau pemetaan pikiran patut diduga dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa.</p>
<p><strong>Pengaruh Mind Mapping terhadap Kreativitas Siswa </strong></p>
<p>Kreativitas adalah segala potensi yang terdapat dalam setiap diri individu yang meliputi ide-ide atau gagasan-gagasan yang dapat dipadukan dan dikembangkan, sehingga dapat menciptakan suatu produk yang baru dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Kreativitas muncul karena adanya motivasi yang kuat dari diri individu yang bersangkutan. Produk dari kreativitas dapat dihasilkan melalui serangkaian tahapan yang memerlukan waktu relatif lama. Secara efektif, individu kreatif memiliki ciri rasa ingin tahu yang besar, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru.</p>
<p>Mind Mapping dapat menghubungkan ide baru dan unik dengan ide yang sudah ada, sehingga menimbulkan adanya tindakan spesifik yang dilakukan oleh siswa. Dengan penggunaan warna dan symbol-simbol yang menarik akan menciptakan suatu hasil pemetaan pikiran yang baru dan berbeda. Pemetaan pikiran merupakan salah satu produk kreatif yang dihasilkan oleh siswa dalam kegiatan belajar.</p>
<p>Sistem limbik pada otak manusia memiliki peranan penting dalam penyimpanan dan pengaturan informasi (memori) dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang secara tepat. Dalam proses belajar, siswa menginginkan materi pelajaran yang diterima menjadi memori jangka panjang, sehingga ketika materi tersebut diperlukan kembali siswa dapat mengingatnya. Belahan neocortex juga memiliki peranan penting dalam penguatan memori. Belahan otak kiri yang berkaitan dengan kata-kata, angka, logika, urutan, dan rincian (aktivitas kademik). Belahan otak kanan berkaitan dengan warna, gambar, imajinasi, dan ruang atau disebut sebagai aktivitas kreatif. Jika kedua belahan neocortex ini dipadukan secara bersamaan maka informasi (memori) yang diterima dapat bertahan menjadi memori jangka panjang.</p>
<p>Mind Mapping merupakan teknik mencatat yang memadukan kedua belahan otak. Sebagai contoh, catatan materi pelajaran yang dimiliki siswa dapat dituangkan melalui gambar, simbol dan warna. Mind Mapping mewujudkan harapan siswa untuk memori jangka panjang. Materi pelajaran yang dibuat dalam bentuk peta pikiran akan mempermudah sistem limbik memproses informasi dan memasukkannya menjadi memori jangka panjang.</p>
<p>Keuntungan lain penggunaan catatan Mind Mapping yaitu membiasakan siswa untuk melatih aktivitas kreatifnya sehingga siswa dapat menciptakan suatu produk kreatif yang dapat bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Hal lain yang berkaitan dengan sistim limbik yaitu peranaannya sebagai pengatur emosi seperti marah, senang, lapar, haus dan sebagainya. Emosi sangat diperlukan untuk menciptakan motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi dapat menambah kepercayaan diri siswa, sehingga siswa tidak ragu dan malu serta mau mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya terutama potensi yang berhubungan dengan kreativitas. Pemetaan pikiran adalah salah satu produk kreatif bentuk sederhana yang dapat dikembangkan. Dengan teknik mencatat pemetaan pikiran patut diduga bahwa kreativitas(sikap kreatif) siswa akan meningkat.</p>
<p>Menurut Yovan (2008), aplikasi peta pikiran dapat meningkatkan kreativitas individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan karena peta pikiran memungkinkan penggunaan unsure-unsur kreativitas seperti gambar, bentuk, warna, dan lainnya dalam membentuk representasi mental. Selain itu, peta pikiran juga mengakomodir berbagai sudut pandang yang berbeda dari individu dan kelompok. Berbagai teknologi pikiran yang memacu kreativitas seperti, brainwriting, brainwalking dan semantic intuition sangat kompatibel dengan aplikasi peta pikiran.</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Berdasarkan pembahasan terhadap masalah dalam tulisan ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Belajar dengan menggunakan konsep Peta Pikiran (Mind Mapping), merekam informasi/materi pelajaran yang diperoleh dalam bentuk grafis yang memadukan kinerja otak kiri dan otak kanan sehingga dapat membuka potensi yang dimiliki.</li>
<li>Implementasi pembelajaran berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping) dapat dilakukan melalui empat langkah, yaitu overview, preview, inview, review.</li>
<li>Pembelajaran berbasis Peta Pikiran (Mind Mapping) dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa.</li>
</ol>
<p><strong>Saran </strong></p>
<p>Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pentingnya melatihkan dan membiasakan anak keterampilan membuat Peta Pikiran (Mind Mapping) sebagai salah satu cara belajar.</li>
<li>Perlunya dilakukan penelitian ilmiah terhadap integrasi Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam implementasi model pembelajaran yang telah ada.</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA </strong></p>
<p>Djohan. 2008. <em>Aplikasi Real-time Buzan Mind Mapping</em>. Indomindmap® Learning Center – ILC. Applied RT-MM pdf.</p>
<p>Gunawan, A. 2007. <em>Born to be a genius</em>. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>Mulyanto, A. 2009. <em>Mind Map Sebagai Teknik Mencatat</em>. Dari http://mulyanto.blogdetik.com. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009.</p>
<p>Porter, B dan Hernacki, M. 2002. <em>Quantum Learning</em>. Bandung: Kaifa.</p>
<p>Rostikawati. 2008. <em>Mind Mapping Dalam Metode Quantum Learning Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar dan Kreatifitas Siswa</em>. Dari http://pkab.wordpress.com. Diakses pada tanggal 2 September 2009.</p>
<p>Santrock, J.W. 2007. Psikologi Pendidikan. Penerbit Kencana. Jakarta</p>
<p>Yovan, P. 2008. <em>Memori dan Pembelajaran Efektif</em>. Jakarta: Yrama Widya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Notes: </strong><em>Tulisan ini juga diposting di </em><a href="http://mahmuddin.wordpress.com"><em>http://mahmuddin.wordpress.com</em></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=30&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/11/26/meningkatkan-hasil-belajar-dan-kreativitas-siswa-melalui-pembelajaran-berbasis-peta-pikiran-mind-mapping/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/display.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Display</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://astutiamin.files.wordpress.com/2009/11/laws.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Laws</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Implikasi Pembelajaran Berbasis ICT terhadap Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Profesional Mahasiswa</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/implikasi-pembelajaran-berbasis-ict-terhadap-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/implikasi-pembelajaran-berbasis-ict-terhadap-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 01:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Pedagogik]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Profesional]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Berbasis ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran ICT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Meningkatnya peran ICT dalam dunia pendidikan menuntut peran guru yang memiliki kemampuan teknologi literasi yang baik. Dalam hal ini, seorang guru harus memiliki kemampuan untuk menggunakan proses teknologi atau memanfaatkan hasil teknologi. Bahkan guru sebaiknya dapat merancang dan membuat karya teknologinya sendiri. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sepatutnya menyelenggarakan pembelajaran yang berbasis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=27&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meningkatnya peran ICT dalam dunia pendidikan menuntut peran guru yang memiliki kemampuan teknologi literasi yang baik. Dalam hal ini, seorang guru harus memiliki kemampuan untuk menggunakan proses teknologi atau memanfaatkan hasil teknologi. Bahkan guru sebaiknya dapat merancang dan membuat karya teknologinya sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sepatutnya menyelenggarakan pembelajaran yang berbasis ICT. Pembelajaran berbasis ICT akan menciptakan situasi dan lingkungan bagi mahasiswa yang dapat menstimulasi kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi. Keterlibatan kreasi dan inovasi dalam dunia ICT mensyaratkan kemampuan penguasaan teknologi ICT yang baik, sehingga menuntut mahasiswa untuk meningkatkan dan memperbaharui (update) keterampilan ICT yang dimiliki. Dengan demikian, out put LPTK yang akan terjun ke dalam dunia pendidikan di sekolahan sebagai guru atau tenaga kependidikan telah memiliki kompentensi ICT yang baik.</p>
<p>Kemampuan menggunakan ICT merupakan salah satu kompetensi yang dipersyaratkan wajib dimiliki oleh setiap guru dan calon guru. Kompetensi penggunaan ICT merupakan salah satu aspek dalam kompetensi pedagogic dan kompetensi professional berdasarkan Peraturan Menteri Republik Indonseia No. 16 tahun 2007. Berdasarkan Permen tersebut, seorang guru atau calon guru harus dapat menggunakan teknologi komunikasi dan informasi untuk kepentingan pembelajaran sebagai salah satu kompetensi pedagogik. Sedangkan sebagai kompetensi professional, seorang guru atau calon guru harus memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk berkomunikasi dan untuk pengembangan diri.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ul>
<li>Amin, Astuti Muh. 2009. Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Information and Communication Technology terhadap Hasil belajar Siswa Biologi Kelas XI SMA Negeri 11 Makassar. <em>Skripsi.</em> Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar. Makassar.</li>
<li>Anonim a. 2006<em>. E Learning Award</em>. <a href="http://elearning.unimal.ac.id/upload/materi/pbl-ict.pdf">http://elearning.unimal.ac.id/upload/materi/pbl-ict.pdf</a>. Diakses pada tanggal 7 mei 2008.</li>
<li>Anonim b. 2007<em>. Pemanfaatan Media Berbasis ICT terhadap Pembelajaran di Sekolah</em>. http://ict.community.multiply.com. Diakses pada tanggal 12 Desember 2008.</li>
<li>Anonim c. 2006<em>. Prinsip-prinsip Kognitif Pembelajaran Multimedia</em>. <a href="http://journal.unair.ac.id/">http://Journal.unair.ac.id</a>. Diakses pada tanggal 21 Mei 2008.</li>
<li>Anonim e. 2008<em>. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi</em> <em>Sebagai Media Pembelajaran.</em> <a href="http://www.upscale.utoronto.ca/">http://www.upscale.utoronto.ca</a>. Diakses pada tanggal 12 Desember 2008.</li>
<li>Anonim f. 2007<em>. Belajar Lebih Menyenangkan dengan Animasi. </em><a href="http://www.edubenchmark.com/">http://www.edubenchmark.com</a>. Diakses pada tanggal 12 Desember 2008.</li>
<li>Bambang, Aryan. 2007. <em>Pengembangan ICT dalam Pembelajaran di SMA. </em><a href="http://rbaryans/">http://rbaryans</a>.wordpress.com. Diakses pada tanggal 3 Januari 2009.</li>
<li>Djamarah, BS dan A.  Zin. 2006. <em>Strategi Belajar Mengajar. </em>Rineka Cipta. Jakarta.</li>
<li>Haryanto. 2008. <em>E-Learning Bahasa Jawa</em>. <a href="http://media.diknas.go.id/">http://media.diknas.go.id</a>.  Diakses tanggal 3 Juni 2008.</li>
<li>Haling, Abdul. 2006. <em>Belajar dan Pembelajaran</em>. Makassar: Badan Penerbit UNM.</li>
<li>Harun, J dan Zaidatun. 2004. <em>Teknologi Multimedia dalam Pendidikan</em>. http://www. ctl.utm.my/publications/manuals/mm/elemenMM.pdf. Diakses pada tanggal 9 Desember 2008.</li>
<li>Isroi. 2008. <em>Persentase Aktif dengan MS Powerpoint.</em> <a href="http://isroi.wordpress.com/tag/ms-poerpoint">http://isroi.wordpress.com/tag/ms-poerpoint</a>. Diakses tanggal 3 Juni 2008.</li>
<li>Ketut D, Adhie. 2007. <em>Membangun media belajar berbasis ICT</em>. <a href="http://bp3.blogger.com/">http://bp3.blogger.com</a>. Diakses tanggal 9 Juni 2008.</li>
<li>Munardi, Chozin. 2007. <em>Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah dalam Mendukung Model Pembelajaran Berbasis ICT di SMA Negeri I Probolinggo</em>.<em> </em><a href="http://media.diknas.go.id/media/document/5398.pdf">http://media.diknas.go.id/media/document/5398.pdf</a>. Diakses tanggal 7 Mei 2008.</li>
<li>Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia bekerja sama dengan Penerbit Alfabeta. Jakarta.</li>
<li>Nurhayati dan Lukman,W. 2004. <em>Strategi Belajar Mengajar</em>. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.</li>
<li>Riyana, Cepi 2008. <em>Peranan Teknologi Dalam Pembelajaran</em>. http://chepy.files. wordpress.com. Diakses tanggal 7 mei 2008.</li>
<li>Silberman, Malvin, Allyn and Bacon. 1996. <em>Aktive Learning</em>. Boston London Toronto Sydney Tokyo Singapore.</li>
<li>Silfia H. 2008. <em>Memecahkan Masalah Dunia Pendidikan. </em><a href="http://silfiahananisyafei.blogspot.com/">http://Silfiahananisyafei.blogspot.com</a>. Diakses pada tanggal 18 September 2008.</li>
<li>Uno, Hamzah B. 2007. <em>Model Pembelajaran</em>. Bumi Aksara. Jakarta</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=27&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/implikasi-pembelajaran-berbasis-ict-terhadap-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Information and Communication Technology dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/penggunaan-information-and-communication-technology-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/penggunaan-information-and-communication-technology-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 01:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Aksiologi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Landasan Aksiologi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Landasan Filosofi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Landasan Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Berbasis ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran TIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ketika ICT semakin menyentuh pada semua sisi kehidupan manusia, penggunaan teknologi ini pun memiliki peran yang semakin vital dalam aktivitas keseharian. Hampir seluruh aktivitas, dapat dimanifestasikan dalam bentuk produk ICT. Kreativitas manusia dalam menggunakan ICT sebagai produk dan hasil, menjadikan ICT memiliki peran penting dalam dunia pendidikan termasuk dalam proses pembelajaran. Aplikasi ICT dalam pembelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=23&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika ICT semakin menyentuh pada semua sisi kehidupan manusia, penggunaan teknologi ini pun memiliki peran yang semakin vital dalam aktivitas keseharian. Hampir seluruh aktivitas, dapat dimanifestasikan dalam bentuk produk ICT. Kreativitas manusia dalam menggunakan ICT sebagai produk dan hasil, menjadikan ICT memiliki peran penting dalam dunia pendidikan termasuk dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Aplikasi ICT dalam pembelajaran berimplikasi pada perkembangan proses material fisik seperti buku, kini berkembang menjadi fasilitas network yang bersifat online. Integrasi ICT dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas peserta didik. Dari segi penguasaan konten pengetahuan, penggunaan ICT yang variatif dapat meningkatkan hasil ujian akhir. Oleh karena, proses belajar dapat melibatkan sebanyak mungkin alat indera serta dapat memilih gaya belajar yang sesuai dengan diri mereka sendiri.<span id="more-23"></span></p>
<p>Adapun penggunaan ICT dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam hal layanan administrasi pembelajaran dan sumber belajar. Dalam hal layanan administrasi pembelajaran, ICT digunakan dalam memproses dan menyimpan semua data-data administrasi pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang dibuat dalam sistem komputerisasi, dapat memudahkan dalam pengadministrasian dan pengembangan jika diperlukan. Administrasi penilaian yang terkomputerisasi, dapat memberi interpretasinya. Dengan sistem proteksi yang aman, mahasiswa dapat pula mengakses data-data tersebut secara online sehingga perkembangan belajarnya pun dapat terpantau dan dapat terjadi <em>self reflection</em>.</p>
<p>Dalam proses pembelajaran, integrasi ICT dapat dilakukan dalam bentuk penggunaan sebagai sumber belajar. Sebagai sumber belajar, dunia ICT menyediakan fasilitas internet, e-learning, dan multimedia.</p>
<p><strong><em>Internet</em></strong></p>
<p>Menurut Williams (1999) <em>dalam</em> Munir (2008), internet dapat dirumuskan sebagai  <em>“a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources”. </em>Internet merupakan perangkat keras yang berupa seperangkat computer yang saling terhubung satu sama lain. Di samping itu, internet mencakup perangkat lunak yaitu berupa data yang dikirim dan simpan yang sewaktu-waktu dapat diakses. Perangkat lunak yang dihasilkan dalam internet, memungkinkan para pengembang pembelajaran bekerja sama dengan ahli materi dan mengemas materi pembelajaran elektonik.</p>
<p>Pembelajaran melalui internet dapat diberikan dalam beberapa format, di antaranya adalah electronic mail (pengiriman materi, penilaian, feedback atau diskusi), bulletin board (diskusi dalam kelompok khusus), downloading of course materials or tutorial, interactive tutorial on the web dan Real time atau interactive conferencing using (chating).  Ketika bahan pembelajaran elektronik telah dikemas dan dimasukkan dalam internet, kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mensosialisasikan ketersediaan program kepada mahasiswa (Munir, 2008).</p>
<p><strong><em>E-Learning</em></strong></p>
<p>Penggunaan e-learning dalam pembelajaran menggunakan<em> </em>jasa audio, video, computer atau kombinasi ketiganya. E-learning dapat dilakukan melalui jaringan sehingga materi ajar dapat sampai kepada mahasiswa melalui internet. E-learning menyediakan bahan ajar yang dapat diakses kapanpun dan dari manapun. E-learning tidak membutuhkan ruang kelas konvensional, tetapi fasilitas akses internet, computer, atau modem. Dengan demikian, e-learning dapat memperpendek jarak antara pengajar dan peserta didik (Munir, 2008).</p>
<p><strong><em>Multimedia</em></strong></p>
<p>Multimedia merupakan media pengajaran dan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dalam aplikasinya multimedia  mampu menyentuh berbagai panca indera  seperti penglihatan, pendengaran dan sentuhan. Multimedia merupakan alat atau metode yang dapat digunakan untuk menjalin komunikasi antara pengajar dan mahasiswa. Penyajian multimedia dapat dikemas dengan menyesuaikan bakat, minat, keperluan pengetahuan dan emosi. Multimedia dapat memberikan pengajaran secara individual dengan melalui sistem tutorial, Karena multimedia dapat mengulang informasi.</p>
<p>Sistem dalam multimedia memberikan kemudahan dalam menggabungkan gambar, video, fotografi, grafik, dan animasi dengan suara, teks , dan data yang dikendalikan dengan program computer. Keistimewaan multimedia adalah menyediakan proses interaktif dan kemudahan umpan balik, kebebasan menentukan topic yang disukai, dan kemudahan control yang sistematis.</p>
<p>Menurut Munir (2008), Pembelajaran yang berbasis ICT akan berjalan efektif jika menerapkan pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centre learned), yaitu dengan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata, menumbuhkan pemikiran reflektif, dan membantu perkembangan dan keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=23&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/penggunaan-information-and-communication-technology-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakekat Pembelajaran Berbasis Information and Communication Technology</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/hakekat-pembelajaran-berbasis-information-and-communication-technology/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/hakekat-pembelajaran-berbasis-information-and-communication-technology/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 00:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[Hakekat Pembelajaran ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Berbasis ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Komputer termasuk salah satu media pembelajaran. Pengunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pendidikan. Pada dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan. Namun, komputer sebagai produk teknologi khususnya di lembaga pendidikan kurang dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran. Komputer digunakan hanya sebatas word [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=20&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Komputer termasuk salah satu media pembelajaran. Pengunaan komputer dalam pembelajaran merupakan aplikasi teknologi dalam pendidikan. Pada dasarnya teknologi dapat menunjang proses pencapaian tujuan pendidikan.</p>
<p>Namun, komputer sebagai produk teknologi khususnya di lembaga pendidikan kurang dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran. Komputer digunakan hanya sebatas <em>word processing.</em> Kini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjadikan teknologi (komputer) dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.<span id="more-20"></span></p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran, sistem penyajian (materi) melalui komputer dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti : <em>hyperteks</em>, simulasi–demontrasi ataupun tutorial. Tiap-tiap sistem memiliki keistimewaan masing–masing. Sangat menarik jika keunggulan masing-masing sistem tersebut digabungkan ke dalam satu bentuk model yang dapat digunakan dalam pembelajaran sehingga proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan bermakna (Permana, 2007).</p>
<p>Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran. Dengan adanya media pembelajaran berbasis <em>ICT</em>, khususnya menggunakan presentasi <em>Powerpoint</em>  dapat meningkatkan motivasi anak didik untuk maju. Media ICT yang mempunyai kreatifitas yang tinggi dapat berpengaruh bagi perkembangan di kehidupan mereka kelak (Anonim b, 2007).</p>
<p>Pemanfaatan teknologi dalam proses pengembangan mutu pendidikan sangat mempengaruhi model pembelajaran. Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Teknologi tidak dapat dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai sebagai suatu produk dan proses (Sadiman, 1993 <em>dalam</em> Riyana, 2008).</p>
<p>Produk teknologi yang dihasilkan secara relevan dapat dimanfaatkan untuk pendidikan terutama untuk proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian teknologi yang secara langsung relevan dengan pembelajaran adalah disesuaikan dengan makna pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan komunikasi yang transaksional yang bersifat timbal balik baik diantara dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan mahasiswa dan lingkungan belajar dalam upaya mencapaian tujuan pembelajaran. Dari makna pembelajaran di atas terdapat makna inti bahwa pembelajaran harus mengandung unsur komunikasi dan informasi. Dengan demikian teknologi yang berhubungan langsung dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (Riyana, 2008).</p>
<p>Proses belajar mengajar seringkali dihadapkan pada materi yang abstrak dan di luar pengalaman mahasiswa sehari-hari, sehingga materi ini menjadi sulit diajarkan guru dan sulit dipahami mahasiswa. Visualisasi adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengkonkritkan sesuatu yang abstrak. Gambar dua dimensi atau model tiga dimensi adalah visualisasi yang sering dilakukan dalam PBM.</p>
<p>Pada era informatika visualisasi berkembang dalam bentuk gambar bergerak (animasi) yang dapat ditambahkan suara (audio). Sajian audio visual atau lebih dikenal dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. <em>ICT</em> dalam hal ini komputer, dengan dukungan multimedia dapat menyajikan sebuah tampilan berupa teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya.</p>
<p>Menurut Bambang (2007), Komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Iklim afektif ini akan melibatkan penggambaran ulang berbagai objek yang ada dalam pikiran siswa. Dan iklim inilah yang membuat tingkat retensi siswa pengguna komputer multimedia lebih tinggi daripada bukan pengguna.</p>
<p>Penggunaan media pembelajaran yang berbasis <em>ICT</em> merupakan hal yang tidak mudah. Dalam menggunakan media tersebut harus memperhatikan beberapa teknik agar media yang dipergunakan itu dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan tidak menyimpang dari tujuan media tersebut, dalam hal ini media yang digunakan adalah Komputer dan <em>LCD Proyektor</em>. Arief S. Sadiman ( 1996 : 83 ) mengatakan bahwa : Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu media jadi karena merupakan komoditi perdagangan yang terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai ( media by utilization ) dan media rancangan yang perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud dan tujuan pembelajaran tertentu (Anonim d, 2008).</p>
<p><em>ICT</em> bukan merupakan teknologi yang berdiri sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari <em>hardware</em> dan <em>software.</em> Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan. <em>ICT</em> sebagai media pembelajaran yaitu <em>hardware</em> dan <em>software</em> yang tersedia dan jenis metode pembelajaran yang akan digunakan. Beberapa pemanfaatan <em>ICT</em> dalam pembelajaran diantaranya adalah presentasi. Merupakan cara yang sudah lama digunakan, dengan menggunakan <em>OHP </em>atau <em>chart</em>. Peralatan yang digunakan sekarang biasanya menggunakan sebuah komputer/laptop dan <em>LCD </em>proyektor. Ada beberapa keuntungan jika kita memanfaatkan <em>ICT</em> diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan film,sehingga tampilannya menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa untuk menangkap materi yang kita sampaikan. Software yang paling banyak digunakan untuk presentasi adalah Microsoft <em>Powerpoint.</em></p>
<p>Penggunaan animasi adalah salah satu contoh pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Animasi menjadi pilihan untuk menujang proses belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa dan juga memperkuat motivasi, dan juga untuk menanamkan pemahaman pada siswa tentang materi yang diajarkan. Animasi yang pada dasarnya adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah gerakan memiliki keunggulan dibanding media lain seperti gambar statis atau teks. Keunggulan animasi adalah kemampuannya untuk menjelaskan suatu kejadian secara sistematis dalam tiap waktu perubahan. Hal ini sangat membantu dalam menjelaskan prosedur dan urutan kejadian. Meskipun disisi lain kemampuan memori otak manusia sangat berpengaruh dalam keefektifan penggunaan animasi. Selain kemampuan memori otak, pengetahuan awal (<em>prior knowledge</em>) mengenai konsep yang akan dijelaskan juga mempengaruhi tingkat keefektifan animasi. Bagi pemula yang tidak memiliki pengetahuan awal akan cenderung untuk lebih memperhatikan perubahan animasi yang menarik secara perseptual dibandingkan dengan perubahan yang penting dalam memahami materi.</p>
<p>Banyak alasan mengapa media pembelajaran <em>ICT</em> yang diterapkan dalam bentuk animasi lebih banyak digunakan daripada media pembelajaran lainnya.   Siswa dalam belajar tidak memperhatikan pelajaran kurang lebih 40% dari waktu yang tersedia.  Lebih lanjut, siswa mencapai 70% pada 10 menit pertama belajar, mereka hanya bertahan 20% pada sepuluh menit terakhir.  Sehingga akibatnya, perhatian siswa berkurang seiring dengan berlalunya waktu.  Dengan menambahkan visual pada pelajaran, akan menaikkan ingatan dari 14% ke 38%.  Sebuah gambar atau model suatu objek barangkali tidak bernilai ribuan kata, namun tiga kali lebih efektif daripada hanya kata-kata saja.  Manakala pengajaran menggunakan visual, kesan menjadi lebih kuat dengan sistem pencapaian tersebut (Silberman, 1996).</p>
<p>Media pembelajaran berbasis <em>ICT</em> sangat erat kaitannya dengan kreativitas anak, dan anak yang mempunyai kreativitas tentunya anak yang perkembangannya baik dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik pula dan mereka  tidak ingin mempermasalahkan berlarut-larut dan secepatnya diselesaikan. Kreativitas yang merupakan kemampuan seseorang untuk mengaktualkan dirinya dalam pergaulan dan juga dalam pembelajaran di sekolah. Hal in yag diharapkan agar dengan adanya media pembelajaran atau dengan  menggunakan media pembelajaran berbasis <em>ICT</em> anak dapat kreatif dan berkembang sesuai yang diinginkan. Adapun ciri-ciri  anak yang mempunyai kreativitas tinggi selalu ingin mengetahui sesuatu yang benar, selalu ingin  mengubah sesuatu yang telah ada, mencoba hal-hal yang baru.</p>
<p>Hasil penelitian Amin (2009), melaporkan bahwa ada perbedaan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan menggunakan media pembelajaran berbasis <em>ICT</em> dengan hasil belajar siswa yang diajar tanpa menggunakan media pembelajaran berbasis <em>ICT</em> memperlihatkan hasil yang lebih tinggi. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis <em>ICT </em> lebih berhasil dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan media pembelajaran berbasis <em>ICT</em>. Djamarah (2006), mengemukakan bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil dilihat dari (1)  Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, dan (2) Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai.</p>
<p>Penggunaan <em>ICT</em>  sebagai media belajar  dianggap perlu dilakukan melihat dari berbagai aspek.  Materi pembelajaran akan menjadi mudah terpahami karena adanya visualisasi, simulasi, interaktif, dan multimedia sehingga menimbulkan kekuatan <em>Hypertext</em> dibanding dengan buku.  <em>ICT </em>memudahkan peserta didik untuk memilih, mensintesa dan mengelaborasi serta mengakomodasi siswa yang lamban belajar, meningkatkan retensi atau daya ingat siswa, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan tenaga. Secara relevan <em>ICT </em>dapat menimbulkan gairah belajar dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri, sesuai bakat, kemampuan <em>visual</em>, <em>auditori</em>, dan <em>kinestiknya</em> sehingga penyampaian pesan pembelajaran menjadi lebih terstandar, menarik, dan interaktif dalam menerapkan teori belajar.  Hasil penelitian di US bahwa proses belajar mengajar yang dibantu alat peraga meningkatkan efesiensi 47%, dibantu <em>ICT</em> meningkatkan efesiensi 93% (Adhie, 2007).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=20&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/hakekat-pembelajaran-berbasis-information-and-communication-technology/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membentuk Kompetensi Pedagogik dan Kompetensi Profesional Mahasiswa melalui Pembelajaran Berbasis ICT di LPTK</title>
		<link>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/membentuk-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa-melalui-pembelajaran-berbasis-ict-di-lptk/</link>
		<comments>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/membentuk-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa-melalui-pembelajaran-berbasis-ict-di-lptk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 00:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astutiamin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inovasi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi guru]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Pedagogik]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Profesional]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Berbasis ICT]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran ICT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://astutiamin.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan merupakan salah satu program periotas pemerintah dalam rencana pembangunan lima tahunan. Program pembangunan pendidikan selanjutnya di breakdown oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk menyusun program peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini tampak pada upaya pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari APBN, program pendidikan gratis, peningkatan sarana-dan prasarana pendukung, peningkatan kejahteraan guru dan lain sebagainya. Kualitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=17&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan merupakan salah satu program periotas pemerintah dalam rencana pembangunan lima tahunan. Program pembangunan pendidikan selanjutnya di breakdown oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk menyusun program peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini tampak pada upaya pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari APBN, program pendidikan gratis, peningkatan sarana-dan prasarana pendukung, peningkatan kejahteraan guru dan lain sebagainya.</p>
<p>Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat ketinggalan dibandingkan dengan kemajuan pendidikan pada negara-negara maju. Data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (<em>Human Development Index</em>), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Hasil survey tahun 2007 <em>World Competitiveness Year Book</em> memaparkan daya saing pendidikan dari 55 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 53 (Silfia, 2008).<span id="more-17"></span></p>
<p>Rendahnya mutu pendidikan menuntut agar pemerintah dapat melakukan upaya dalam pengembangan sumber daya manusia yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan termasuk pendidikan bagi calon guru. Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia sekarang tengah memasuki era di mana seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan pendidikan diwarnai oleh perkembangan teknologi informasi. Di bidang pendidikan, fokus pengajaran sekarang ini adalah bagaimana penyampaian pembelajaran bisa berjalan efektif dengan menggunakan teknologi informasi. Perkembangan pesat teknologi informasi dapat menjadi tantangan yang memberi kesempatan bagi dunia pendidikan dan para pendidik khususnya agar dapat bekerja maksimal.</p>
<p>Pembelajaran pada hakikatnya merupakan komunikasi yang <em>transaksional </em>yang bersifat timbal balik diantara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa  dan lingkungan belajar dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Pada konteks pendidikan tinggi, interaksi terjadi antar dosen dengan mahasiswa dan mahasiswa dengan mahasiswa. Dari makna pembelajaran di atas terdapat makna inti bahwa pembelajaran harus mengandung unsur komunikasi dan informasi, produk dan proses teknologi dibutuhkan dalam pembelajaran sesuai dengan karakteristik tersebut. Teknologi yang berhubungan langsung dengan pembelajaran adalah teknologi informasi dan komunikasi (<em>Information and Communication Technology </em>atau<em> ICT)</em>.</p>
<p>Memberdayakan teknologi komunikasi dan informasi di kampus dengan mengemas bahan kulaih dalam bentuk media <em>ICT</em> dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran. Penggunaan <em>ICT</em>  sebagai media belajar  dianggap perlu dilakukan melihat dari berbagai aspek.  Materi pembelajaran akan menjadi mudah terpahami karena adanya visualisasi, simulasi, interaktif, dan multimedia sehingga menimbulkan kekuatan <em>Hypertext</em> dibanding dengan buku teks. </p>
<p><em>ICT </em>memudahkan mahasiswa untuk memilih, mensintesa dan mengelaborasi serta mengakomodasi gaya belajar yang beragam, meningkatkan retensi atau daya ingat, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan tenaga. Secara relevan <em>ICT </em>dapat menimbulkan gairah belajar dan memungkinkan mahasiswa dapat belajar secara mandiri, sesuai bakat, kemampuan <em>visual</em>, <em>auditori</em>, dan <em>kinestiknya,</em> sehingga penyampaian pesan pembelajaran menjadi lebih terstandar, menarik, dan interaktif dalam menerapkan teori belajar.  Hasil penelitian di Amerika serikat ditemukan bahwa proses belajar mengajar yang dibantu alat peraga meningkatkan efesiensi 47%, dibantu <em>ICT</em> meningkatkan efesiensi 93% (Adhie, 2007).</p>
<p>Pembelajaran konvensional masih banyak mewarnai perkuliahan di perguruan tinggi di Indonesia termasuk di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Perkuliahan dirasakan masih terdapat kekurangan, baik dalam prosesnya  maupun hasil belajarnya. Selain itu, pembelajaran konvensional yang masih berpusat pada dosen, belum dapat melayani kebutuhan individual mahasiswa. Oleh karena proses perkuliahan dilakukan di ruang kelas dalam jangka waktu tertentu, penyajian materi pengajaran yang kurang menarik menimbulkan kebosanan, dan menimbulkan efek demotivasi bagi mahasiswa. Kurangnya pemanfaatan media sebagai wahana dalam menyalurkan informasi pendukung dari kegiatan pembelajaran menciptakan suasana di mana mahasiswa bersifat pasif dan dosen menjadi satu-satunya sumber dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Pembelajaran berbasis <em>ICT</em> memiliki berbagai macam bentuk desain salah satunya dalam bentuk <em>powerpoint, </em> <em>flash</em> dan program aplikasi lainnya. Pemanfaatan media ICT dapat mengemas materi ajar secara menarik, singkat, padat dan efektif. Dengan demikian pemahaman mahasiswa dapat di ukur dalam tingkat penyerapan materi atau kreativitas dalam menciptakan media. Penguasaan materi keilmuan dan kemampuan penggunaan ICT merupakan komponen dalam kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji pembelajaran berbasis ICT sebagai upaya membentuk kompetensi pedagogik dan profesional bagi mahasiswa di LPTK yang notabene adalah calon guru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/astutiamin.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/astutiamin.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=astutiamin.wordpress.com&amp;blog=8909110&amp;post=17&amp;subd=astutiamin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://astutiamin.wordpress.com/2009/10/19/membentuk-kompetensi-pedagogik-dan-kompetensi-profesional-mahasiswa-melalui-pembelajaran-berbasis-ict-di-lptk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f0e3da32c643893b738acb16db1c9c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">astutiamin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
